Mei 2017

ANTI TERORIS-KHOWARIJ FITNAHTAN LIL ALAMIN membongkar kesesatan dan bahaya ajaran wahabi tanduk setan ahlul fitnah dari najd berdasarkan al qur'an dan as sunnah serta pendapat fatwa para ulama sunni

WAHABI: Abu Lahab lebih Bertauhid dari Sahabat Bilal yg Bertawassul

WAHABI: Abu Lahab lebih Bertauhid dari Sahabat Bilal yg Bertawassul
Muhammad Ahmad Basyami, penulis KITAB “KAIFA NAFHAM AT-TAUHID  lahir tahun 1915 M/1336 H. Dia seorang yatimpada usia delapan tahun. Dia adalah ulama wahabi, murid dari Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, murid dari Abdulloh bin Muhammad bin Hamid, juga murid dari Abdul ‘Azoz bin Abdulloh bin Baz.

Terjemahan scan kitab yg berwarna kuning:

Sesungguhnya pada umumnya umat islam adalah orang-orang bodoh, tidak mengetahui makna hakikat ibadah. Mereka menghadapkan diri dengan ibadanya kepada selain Allah (karena kebodohannya). Maka jatuhlah mereka dalam perbuatan syirik dan keluar dari jalan (agama).

Dan hal itu karena mereka menghadapkan diri dengan penuh rasa takut dan khudhu [merendahkan diri] kepada kuburan para Nabi, para wali dan para orang-orang sholih, dengan berdoa dan beristighotsah, memotong hewan dan bernadzar, bertowaf dan menginap dikuburan [karena memuliakan] sebagaimana mereka bertowaf di Kabah yang mulia. Dan ini adalah ibadah yang mereka namakan tabaruk [mengambil berkah] dan tawasul [menjadikan perantara].

Namun betapa kagetnya kita setelah membaca kalimat pada halaman 12 tentang TAUHID ABU JAHAL DAN ABU LAHAB.

Abu Jahal dan Abu Lahab dan orang-orang yang berada dalam agama musyrik mereka, mereka adalah beriman kepada Allah, dan mentauhidkan rububiyahnya(Tri tauhid), sebagai yang mencipta, yang memberi rizki, yang menghidupkan dan yang mematikan, yang memberi mudhorot & manfaat, mereka tidak menyekutukan Nya dalam hal itu sedikitpun.

Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya kepada Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang shaleh dan memohon pertolongan dengg perantara mereka kepada Allah. Ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya dan lebih tulus imannya dari mereka kaum Muslimin yg mengucapkan Lailaha illallah Muhammadar Rasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah)
tak megherankan jika sahabat yaitu Bilal mereka vonis musyrik sebagai pembawa syirik karena bertawassul di makam Baginda Rosulullah
Diriwayatkan oleh ibnu syaibah dengan sanad shahih dari riwayat Abu salih as saman dari Malik ad dar seorang bendahara Umar yg berkata;

"Masyarakat mengalami paceklik pada zaman(kekhalifahan) Umar. Lantas, seseorang datang ke maqam Nabi SAW. Seraya berkata, "Ya Rasulullah mohonkanlah(kepada Allah SWT) hujan utk umatmu, karena mereka hendak binasa.'' kemudian lelaki itu bermimpi(bertemu Nabi SAW)dalam tidurnya lalu beliau bersabda,'temuilah Umar!'...dst." Saif juga meriwayatkan hadits tersebut dalam kitab al futuh:sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal ibnu al harits almuzanni, salah seorang sahabat."
(HR Bukhari)
{ Lihat Scan Pertama}.


● Dalam permulaan kitab, Menerangkan bahwa kitab
"Fathul Bary" tsbTelah dicetak dengan oleh 4 pencetakan,
Dan kitab tersebut telah di tahkik oleh Abdul Aziz bin Baz.
.
{ Lihat Scan Kedua}.

● Di atas adalah isi kandungan kitab tersebut yang ditambah nota kakinya oleh Bin Baz dan Semua kaum wahhabi Talafi mengakuinya.
Tertera pada GARIS MERAH Hadits Nabi yang Shahih dalam kitab Fathul Bary tersebut menyatakan :
.
" Bahwa Sahabat Nabi Saw yang bernama Bilal al-harith almuzany telah melakukan amalan Tawassul yaitu
Meminta hujan dari Allah dengan bertawassulkan Nabi Saw dinamakan “Istisqo’ “.
.
● Pada GARIS BIRU adalah pernyataan resmi Bin baz dan semua wahhabi menyetujuinya dimana pernyataan tersebut amat jelas Pentahqiq (ABDUL AZIZ BIN BAZ):
.
و ان …ا فغله هذا الرجل …نكر ووسيلة الى الشرك
.
“Sesungguhnya apa dilakukan oleh lelaki ini yaitu Sahabat Nabi Muhammad (Bilal) adalah satu-satunya pembawa syirik”.
.
Dan perhatikan tulisan berikutnya begitu jelas Pentahqiq Menghukumi SYIRIK Kepada Sahabat Nabi Muhammad (Bilal) . TERBUKTI ! Wahabi pengkhianat sahabat salafus shalih
baca juga  Pusat Fatwa Mesir : Kesesatan & bahaya TRITAUHID wahabi 
300 artikel lainnya klik Angka Berikutnya  pada Gooooogle di bawah ini
WAHABI: Abu Lahab lebih Bertauhid dari Sahabat Bilal yg Bertawassul

WAHABI: Abu Lahab lebih Bertauhid dari Sahabat Bilal yg Bertawassul

Muhammad Ahmad Basyami, penulis  KITAB “KAIFA NAFHAM AT-TAUHID    lahir tahun 1915 M/1336 H. Dia seorang yatimpada usia delapan tahun. Dia...
4.82/ 5 (91)
Muhammad Ahmad Basyami, penulis  KITAB “KAIFA NAFHAM AT-TAUHID    lahir tahun 1915 M/1336 H. Dia seorang yatimpada usia delapan tahun. Dia...
4 Dari 5 BINTANG

Tarawih 4 Rokaat dgn Satu Salam Hanya Karangan Wahabi

berapa jumlah rakaat shalat tarawih bacaan shalat tarawih tata cara shalat tarawih 8 rakaat pengertian shalat tarawih bacaan bilal pada sholat tarawih shalat tarawih 23 rakaat bagaimana cara melakukan shalat tarawih jelaskan ketentuan shalat witir
Ternyata Rosulullah tak pernah mengajarkan berbagai sholat sunnah manapun memakai 4 rokaat dengan satu salam dan karena meyalahi rukun sholat maka sholatnya tidak sah sholat Tarawih 4 Rokaat dgn Satu Salam Hanya Karangan umat Wahabi saja
Perhatikanlah penjelasan Siti Aisyah pada hadis berikut ini:
                                          عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ.               .
Artinya: Dari Aisyah berkata: Seringkali Rasulullah melakukan shalat antara selesai shalat Isya yang disebut orang dengan shalat Atamah sampai Fajar beliau mengerjakan shalat 11 rakaat, beliau melakukan salam pada tiap 2 rakaat dan melakukan 1 rakaat Witir. Apabila seorang Muadzzin selesai dari azan shalat Shubuh yang menandakan fajar telah datang, Muadzzin tersebut mendatangi beliau beliau pun melakukan shalat 2 rakaat ringan setelah itu beliau berbaring (rebah-rabahan) atas lambungnya yang kanan sampai Muadzzin itu mendatangi beliau untuk Iqamah.Hadis tersebut disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya hadis no: 1216, Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak hadis no: 1671, Imam al-Darimiy dalam sunannya hadis no: 1447, Imam al-Bayhaqiy dalam al-Sunan al-Shughra hadis no: 600, al-sunan al-Kubra hadis no: 4865 dan Marifah Sunan Wa al-Atsar hadis no: 1435.>>
Dalam risalah        , penulis telah sebutkan lebih dari 80 kitab Mutabar dari berbagai cabang ilmu, baik dari keterangan kitab Syarh hadis, fiqh, Ushul Fiqh dan Taswwuf, yang menyatakan bahwa shalat Tarawih yang dikerjakan dengan 4 rakaat sekali salam itu tidak sah. Di antaranya:
1. {} Imam Nawawiy al-Dimasyqiy:
يَدْخُلُ وَقْتُ التَّرَاوِيْحِ بِالْفَرَاغِ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ وَيَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ وَلْيُصَلِّهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا هُوَ اْلعَادَةُ فَلَوَْصَلَّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ الْقَاضِى حُسَيْنٌ فيِ فَتَاوِيْهِ ِلاَنَّهُ خِلاَفُ الْمَشْرُوْعِ قَالَ وَلاَ تَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ بَلْ يَنْوِى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ أَوْ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ أَوْ قِيَامَ رَمَضَانَ فَيَنْوِيْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ مِنْ صَلاَةِ التَّرَاوِيحِ . )المجموع شرح المهذب: ج 4 ص : 38 (دار الفكر 2000)

                                                         . )  :  4  : 38 (  2000)
Artinya:Masuk waktu shalat Tarawih itu setelah melaksanakan shalat Isya. Imam al-Baghawi dan lainnya menyebutkan: waktu tarawih masih ada sampai terbit fajar. Hendaklah seseorang mengerjakan shalat Tarawih dengan dua rakaat- dua rakaat, sebagaimana kebiasaan shalat sunah lainnya. Seandainya ia shalat dengan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Hal ini telah dikatakan oleh al-Qdhi Husain dalam fatwanya, dengan alasan hal demikian menyalahi aturan yang telah disyariatkan. Al-Qdhi juga berpendapat seorang dalam shalat Tarawih ia tidak boleh berniat mutlak, tetapi ia berniat dengan niat shalat sunah Tarawih, shalat Tarawih atau shalat Qiyam Ramadhan. Maka ia berniat pada setiap 2 rakaat dari shalat Tarawih.
2. {} Imam Ahmad Ibn Hajar al-Haytamiy:
اَلتَّرَاوِيْحُ  عِشْرُوْنَ رَكْعَةً , وَيَجِبُ  فِيْهَا أَنْ تَكُوْنَ  مَثْنَى  بِأَنْ  يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ لِشِبْهِهَا بِاْلفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلاَ تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ بِخِلاَفِ  نَحْوِ سُنَّةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . )فتح الجواد شرح الارشاد:ج  1 ص : 163 (مكتبة اقبال حاج ابراهيم سيراغ 
 {}   ,  {}    {}  {}  {}     ,                 {}       . )   : {} 1  : 163 (      1971)
Artinya: Shalat Tarawih itu 20 rakaat, wajib dalam pelaksanaanya dua-dua, dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Bila seseorang mengerjakan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah karena hal tersebut menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah, maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang). Lain halnya dengan shalat sunah Zuhur dan Ashar (boleh dikerjakan empat rakaat satu salam) atas Qaul Mutamad.
3. {} Imam Muhammad Ibn Ahmad al-Ramliy:
وَلَا تَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ بَلْ يَنْوِي رَكْعَتَيْنِ مِنْ التَّرَاوِيحِ أَوْ مِنْ قِيَامِ رَمَضَانَ .وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا ، وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ.) نهاية 
{} {} {} {} {} {} {} {} {} {} {} {} {} {} {}
                .                  .)     :  {} 1 {}  :127 {} (  2004)
Artinya: Tidak sah shalat Tarawih dengan niat shalat Mutlak, seharusnya seseorang berniat Tarawih atau Qiyam Ramadhan dengan mengerjakan salam pada setiap 2 rakaat. Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat satu salam, jika ia sengaja-ngaja dan mengetahui maka shalatnya tidak sah. Kalau tidak demikian maka shalat itu menjadi shalat sunah Mutlak, Karena menyalahi aturan yang disyariatkan.
4. {} Imam Muhammad al-Zarkasyiy:
صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ وَحَكَى الرُّوْيَانِيُّ عَنِ اْلقَدِيْمِ أَنَّهُ لاَحَصْرَ لِلتَّراوِيْحِ وَهُوَ غَرِيْبٌ . وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ فِي التَّحْقِيْقِ وِثَاقًا لِلْقَاضِي حُسَيْنٍ فِي فَتَاوِيْهِ وَلِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَعْلُهَا سِتًّا وَثَلاَثِيْنَ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَاْلأَصْحَابُ : مِنْ 
                .                           :   . (    :  1  : 198 (  2005)
Artinya: Shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam. Imam al-Ryniy menghikayatkan pendapat dari Qaul Qadim Sesungguhnya pernyataan shalat Tarawih tidak ada batasan adalah pendapat yang Gharib (aneh). Seseorang yang mengerjakan shalat Tarawih hendaknya memberi salam pada tiap 2 rakaatnya. Seandainya seseorang shalat 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Imam Nawawiy al-Dimasyqiy telah menyebutkan hal itu dalam kitabnya al-Tahqq, yang bersandar kepada al-Qdhi Husain dalam fatwanya. Adapun penduduk kota Madinah mereka mengerjakan shalat Tarawih 36 rakaat. Imam Syafii dan para pengikutnya berkata: Khusus bagi penduduk Madinah saja.
5. {} Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Qasthallaniy:
وَ فُهِمَ مِمَّا سَبَقَ مِنْ أَنَّها بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ أَنَّهُ لَوْ صَلَّاهَا أَرْبَعًا أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ ، وَبِهِ صَرَّحَ فِي الرَّوْضَةِ لِشَبَهِهَا بِالْفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلَا تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ .)ارشاد الساري شرح صحيح البخاري  
                              .)     {} : {}  3  : 426 (  1984)
Artinya: Dipahami dari ungkapan yang lalu sesungguhnya shalat Tarawih itu pelaksanaannya dengan 10 kali salam, Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat sekali salam, maka shalat Tarawihnya tidak sah. Seperti inilah keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawiy dalam kitab al-Rawdhah, Karena shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah (tiap 2 rakaat melakukan Tasyahhud), maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang).
6. {} Imam Zakariya al-Anshariy:

وَسُمِّيَتْ كُلُّ أَرْبَعٍ مِنْهَا تَرْوِيحَةً لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَتَرَوَّحُونَ عَقِبَهَا أَيْ : يَسْتَرِيحُونَ ، وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ لِأَنَّهَا بِمَشْرُوعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ فِيهَا أَشْبَهَتْ الْفَرِيضَةَ فَلَا تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ . 
)فتح الوهاب شرح منهج 
          :                   . )    : {} 1  : 58 (    )
Artinya: Pada setiap 4 rakaat dinamai satu Tarwihah karena para sahabat bersantai-santai setelahnya artinya beristirahat. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka tidak sah, karena anjuran berjamaah pada shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu, maka jangan diubah aturan yang telah ada keterangannya.
7. {} Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalliy:
( وَمَعْنَى الشَّرْعِيِّ ) الَّذِي هُوَ مُسَمَّى مَا صَدَقَ الْحَقِيقَةُ الشَّرْعِيَّةُ ( مَا ) ، أَيْ : شَيْءٌ ( لَمْ يُسْتَفَدْ اسْمُهُ إلَّا مِنَ الشَّرْعِ ) كَالْهَيْئَةِ الْمُسَمَّاةِ بِالصَّلَاةِ ( وَقَدْ يُطْلَقُ ) ، أَيْ : الشَّرْعِيُّ ( عَلَى الْمَنْدُوبِ ، وَالْمُبَاحِ ) ، وَمِنْ الْأَوَّلِ قَوْلُهُمْ مِنْ النَّوَافِلِ مَا تُشْرَعُ فِيهِ الْجَمَاعَةُ ، أَيْ : تُنْدَبُ كَالْعِيدَيْنِ . وَمِنْ الثَّانِي قَوْلُ الْقَاضِي الْحُسَيْنِ لَوْ صَلَّى التَّرَاوِيحَ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمِة لَمْ تَصِحَّ ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ . شرح جمع 
(   )        (  )   :  (       )    (   )   :  (     )             :   .                 .) {}    :  1  : 304 (    1973)
Artinya: Makna Syari itu dinamakan sesuatu yang berbetulan dengan hakikat syara adalah sesuatu yang tidak dipahami namanya melainkan dari syara seperti bentuk shalat. Digunakan juga makna syari {} itu atas perbuatan yang mandub dan mubah, dari definisi pertama para ulama berpendapat shalat sunah yang disyariatkan berjamaah artinya disunahkan berjamaah seperti shalat dua hari raya idul fitri dan idul Adha. Dari definisi kedua ini perkataan al-Qadhi Husein yang mengatakan Seandainya ia mengerjakan shalat Tarawih dengan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalat Tarawihnya tidak sah.
8. {} Imam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthiy:
(وَيَقُوْمُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً) بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ بَيْنَ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ وَ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ، فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ، كَمَا نَقَلَهُ فِي الرَّوْضَةِ عَنِ الْقَاضِي حُسَيْنٍ وَأَقَرَّهُ ِلأَنَّهُ خِلاَفُ اْلمَشْـرُوْعِ .شرح التنبيه في فروع الفقه الشافعي:ج 1 ص : 134 (دار الفكر 1996)

(        )                             .)      : 1  : 134 (  1996)
Artinya: Seseorang mengerjakan shalat Tarawih pada tiap malam bulan Ramadhan dengan 10 kali salam pada tiap malam antara shalat Isya sampai terbit fajar. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka hukumnya tidak sah. Sebagaimana Imam Nawawi menukilkannya dalam kitab Rawdhah dari al-Qadhi Husain dan beliau menetapkan hal itu karena menyalahi aturan yang disyariatkan.
9. {} Imam Abdur Rauf al-Munawiy
(يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ) اَيْ اِنَّهُنَّ مِنْ كَمَالِ الطُّوْلِ وَالْحُسْنِ عَلَى غَايَةٍ ظَاهِرَةٍ مُغْنِيَةٍ عَنِ السُّؤَالِ اَيْ اِنَّهُنَّ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ وَ الطُّوْلِ بِحَيْثُ يُعْجِزُ الِّلسَانُ عَنْ بَيَانِهَا , فَمَنْعُ السُّؤَالِ كنِاَيَةٌ عَنِ الْعَجْزِ عَنِ الْجَوَابِ . وَالْمُرَادُ أَنَّهُ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَتَيْنِ لِيُوَافِقَ خَبَرَ زَيْدِ السَّابِقِ وَاِنَّمَا جُمِعَ اْلأَرْبَعُ لِتَقَارِبِهَا طُوْلاً وَحُسْنًا لاَ لِكَوْنِهِمَا بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ .شرح الشمائل المحمدية ج 2 ص : 91 (دار 
(      )                         ,        .                    .    2  : 91 (  1988)
Artinya: Beliau shalat 4 rakaat, jangan anda tanya bagaimana bagus dan lamanya beliau shalat. Artinya 4 rakaat yang beliau lakukan tergolong dari saking sempurna lama dan eloknya atas puncak yang zhahir yang tidak butuh pertanyaan, artinya 4 rakaat tersebut menggambarkan puncak keelokan dan lamanya waktu dari segi lidah akan payah dari menjelaskannya. Penolakan Aisyah dari pertanyaan orang yang bertanya merupakan kiasan dari tidak mampunya Aisyah untuk memberikan jawaban. Yang dimaksud Rasulullah shalat 4 rakaat itu dikerjakan dengan 2 salam agar menjadi sesuai dengan keterangan hadis dari Zaid yang telah lalu. Hanya sanya digabungkan penyebutan 4 rakaat karena berdekatan antara keduanya dalam hal lama dan eloknya, bukan berarti 4 rakaat itu dipahami dengan satu salam.
10. {} Imam Zaynuddin al-Malibariy:
(وَ) صَلاَةُ (التَّرَاوِيْحِ) وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ، فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، لِخَبَرِ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاْحتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. وَيَجِبُ التَّسْلِيْمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ تَصِحَّ ، بِخِلاَفِ سُنَّةِ الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَالضُّحَى وَاْلوِتْرِ. وَيَنْوِي بِهَا التَّرَاوِيْحَ أَوْ قِيَامَ رَمضَانَ) . فتح المعين شرح قرة العين بمهمات الدين:  ص : 33( منارا قدس د ت)
()  ()           :           .                   .      ) .       : {}  : 33(    )
Artinya: Shalat Tarawih 20 rakaat dengan 10 kali salam pada setiap malam di bulan Ramadhan. Karena ada hadis: Siapa saja melaksanakan Qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahulu di ampuni. Wajib setiap 2 rakaat mengucapkan salam. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka hukum shalat Tarawihnya tidak sah. Berbeda {} dengan shalat sunah Zuhur, {} Ashar, Dhuha dan witir. Seharusnya bagi yang mengerjakan shalat Tarawih, ia berniat dengan niat Tarawih atau Qiyam Ramadhan.
baca juga

-Scan kitab Kh Ahmad dahlan tarawih 20 Rokaat

-Syaikhul Islam Wahabi ternyata tarawih 20 Rokaat mengikuti sunnah khulafaur Rosyidin
300 artikel lainnya klik Angka Berikutnya  pada Gooooogle di bawah ini
Tarawih 4 Rokaat dgn Satu Salam Hanya Karangan Wahabi

Tarawih 4 Rokaat dgn Satu Salam Hanya Karangan Wahabi

Ternyata Rosulullah tak pernah mengajarkan berbagai sholat sunnah manapun memakai 4 rokaat dengan satu salam dan karena meyalahi rukun sho...
4.82/ 5 (91)
Ternyata Rosulullah tak pernah mengajarkan berbagai sholat sunnah manapun memakai 4 rokaat dengan satu salam dan karena meyalahi rukun sho...
4 Dari 5 BINTANG

Bid'ah bukan Hukum Islam(Hukum Islam Ada 5 Yakni Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram)

Pengertian Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh Dan Haram
1. Pengertian Wajib
Wajib adalah suatu amalan apabila diamalkan (dikerjakan) akan mendapatkan pahala dan apabila tidak diamalkan (ditinggalkan) akan mendapatkan dosa.

Wajib atau fardlu terbagi menjadi (2) dua bagian, yaitu :
a. Wajib 'Ain
Wajib 'Ain adalah Amalan yang harus dikerjakan oleh setiap orang mukallaf.
Misalnya ; shalat lima kali dalam sehari semalam dan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.
b. Wajib Kifayah
Wajib Kifayah adalah amalan yang apabila sudah dikerjakan oleh sebagian dari mukallaf, maka hilanglah kewajiban terhadap sebagian dari mukallaf lainnya dan akan mendapatkan pahala bagi Mukallaf yang mengerjakannya.
Namun apabila di antara dari mukallaf tidak ada yang mengerjakannya, maka seluruh Mukallaf akan mendapatkan dosa.
Misalnya ; menyelesaikan jenazah dari mulai memandikannya sampai mengkuburkannya.

2. Pengertian Sunnah
Sunnah adalah suatu amalan yang apabila diamalkan (dikerjakan) akan mendapatkan pahala dan apabila tidak diamalkan (ditinggalkan) tidak akan mendapatkan dosa.

Sunnah juga terbagi menjadi (2) dua bagian, yaitu :
a. Sunnah Mu'akkad
Sunnah Mu'akkad adalah amalan yang dikuatkan "yang dianjurkan" untuk dikerjakan.
Karena Rasulullah {saying|saw|proverb|maxim|axiom|motto|wise saying} senantiasa mengerjakan dan jarang meninggalkannya .
Misalnya ; shalat dua hari raya.
b. Sunnah Ghoiru Mu'akkad
Sunnah Ghoiru Mu'akkad adalah amalan sunnah yang tidak dikuatkan "tidak dianjurkan" untuk dikerjakan.
Karena Rasulullah {saying|saw|proverb|maxim|axiom|motto|wise saying} terkadang menerjakannya dan terkadang meninggalkannya.
Misalnya ; puasa sunnah.

3. Pengertian Mubah
Mubah adalah suatu amalan yang apabila diamalkan (dikerjakan) tidak berpahala dan apabila diamalkan (dikerjakan) juga tidak berdosa.

4. Pengertian Makruh
Makruh adalah suatu amalan yang tidak dianjurkan untuk diamalkan (dikerjakan). Akan tetapi apabila diamalkan (dikerjakan) tidak berdosa dan apabila tidak diamalkan (ditinggalkan) akan mendapatkan pahala.
Misalnya ; merokok.

5. Pengertian Haram
Haram adalah suatu amalan yang apabila diamalkan (dikerjakan) akan mendapatkan dosa dan apabila tidak diamalkan (ditinggalkan) akan mendapatkan pahala.

Misalnya ; mencuri, berzina, berjudi dan lain sebagainya yang dilarang dilakukan dalam agama.
Hendaknya kalian tahu bahwa sunnah menurut ulama hadits adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (ketetapan). Menurut Fuqaha (ahli Fiqh), sunnah adalah salah satu dari status hukum Islam, yang apabila mengerjakannya mendapat pahala dan apabila meninggalkanya tidak apa-apa (tidak berdosa), kadang disebut mandub juga nafilah.
Hukum Islam sendiri adalah 5 : Wajib, Sunnah (Mandzub/Mustahab), Mubah (Jaiz), Makruh dan Haram.

Sunnah Rasulullah (perbuatan, perkataan, taqrir) tidak serta status hukumnya menjadi wajib, tetapi ada yang sunnah (mandub/mustahab) tergantung bentuk anjurannya dan konsekuensinya. InsyaAllah kalian paham, bahwa apa yang berasal dari Rasul tidak serta merta wajib bagi kalian.
Demikian juga apa yang dinamakan bidah, bidah bukanlah status hukum Islam (sekali lagi bidah bukan status hukum Islam), melainkan istilah untuk sesuatu yang berlawan dengan sunnah.
Kalau Sunnah adalah perkataan/perbuatan yang berasal dari Rasul, sedangkan
Kalau Bidah adalah perkataan/perbuatan yang bukan berasal dari Rasul.
Dari sini, semoga paham maksud dari istilah berlawanan. Maka, sesuatu yang bukan berasal dari Rasul ini, haruslah di tinjau dan dikaji apakah sesuai dengan Sunnah ataukah tidak. Bukan serta merta ditolak begitu saja kemudian di masukkan kepada salah satu status hukum Islam yaitu status haram.
Jika langsung dimasukkan kepada status hukum haram, nantinya akan absurd dalam memahaminya dan bingung terus-menerus seperti sebagian orang jahil. Karena kalau langsung dimasukkan kepada status hukum haram dan sisi lain mengatakan berlawan dengan sunnah maka jadinya seperti ini :
Bidah (Haram) VS Sunnah (Wajib). Karena lawan dari haram adalah wajib, dan pemahaman seperti ini bak otak yang terbalik. Sedangkan apa yang berasal dari Rasul (perbuatan/perkataan/taqir) tidak selalu dimasukkan kedalam status hukum wajib.
Oleh karena itu, sesuatu perkara baru (bidah) atau lawan dari yang berasal dari Rasul (sunnah) harus diklasifikasikan status hukumnya.
Yang mana nantinya ada yang masuk pada status hukum wajib, mandub, mubah, makruh dan haram. Istilah seperti ini telah diajarkan oleh al-Imam Shulthanul Ulama Syaikh Izzuddin Abdissalam asy-Syafii untuk menyederhanakan memahami bidah. Sehingga dikenal istilah ;
1. Bidah Wajibah : bidah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum wajib, seperti : menyibukkan diri dengan ilmu nahwu sebab dengannya bisa memahami Kalamullah dan Sabda Nabi, hal ini tergolong wajib karena dalam rangka menjaga syariat Islam, sebab apa jadinya jika tidak paham nahwu, maka orang-orang jahil akan berbicara secara serampangan.
Contohnya lainya seperti : menjaga pembendaharaan kata asing al-Quran dan as-Sunnah, pembukuan disiplin ilmu-ilmu ushul, perkataan jahr wa tadil dalam pembahasan ilmu hadits.
2. Bidah Mandubah ; bidah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum sunnah/mandub, seperti : membangun madrasah-madrasah, perkataan-perkataan yang mengandung hikmah seperti tashawuf, perkataan yang bisa menyatukan kaum Muslimin, shalat jamaah tarawih, Maulid Nabi dan sebagainya.
3. Bidah Mubahah ; bidah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum mubah, seperti : bersalaman setelah shalat subuh dan ashar, juga memperluas kesenangan dalam urusan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, pakaian kebesaran ulama, dan melebarkan lengan baju.
4. Bidah Makruhah ; bidah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum makruh, seperti : sekedar kumpul-kumpul di kediaman orang meninggal, menghiasi masjid dengan berlebihan dan lain sebagainya
5. Bidah Muharramah ; bidah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum haram, seperti : pemikiran Qadariyah, jabariyah, murjiah, mujassimah (contohnya : Wahabiyah, Karramiyah dan sejenisnya)
Jika perkara baru tersebut sesuai dengan sunnah maka itu baik (hasanah) dan status hukumnya bisa jadi sunnah, bahkan hingga wajib.
Namun, jika sesuatu perkara baru bertentangan dengan sunnah maka itu buruk (qabihah) dan status hukumnya bisa jatuh pada status hukum makruh bahkan haram.
Semoga dengan pemaparan singkat ini dapat memberikan pemahaman yang benar dalam memahami bidah dan sunnah. Dan sekali lagi bidah itu bukan status hukum, ingat ini.
Bahkan ada sesuatu yang dibenci tapi halal, yaitu thalaq (perceraian). Sangat tidak mungkin kalau karena disebabkan dibenci kemudian langsung dimasukkan kedalam status hukum haram. Jadi pemahaman-pemahaman seperti ini atau sejenisnya adalah benar-benar absurd.
Wallahu Alam. baca juga 

-Hadis Sahih Bid'ah Hasanah


-Bukti Bid'ah hasanah di zaman Khalifah

Bid'ah bukan Hukum Islam(Hukum Islam Ada 5 Yakni Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram)

Bid'ah bukan Hukum Islam(Hukum Islam Ada 5 Yakni Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram)

Bid'ah Itu Bukan Hukum - YouTube Pengertian Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh Dan Haram 1. Pengertian Wajib Wajib adalah suatu...
4.82/ 5 (91)
Bid'ah Itu Bukan Hukum - YouTube Pengertian Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh Dan Haram 1. Pengertian Wajib Wajib adalah suatu...
4 Dari 5 BINTANG

Sony Nur PROFIL ADMIN

Sony Nur adalah Ustad Blogger dari
Surabaya, Jawa Timur
Indonesia
Follow Sony Nur Di Dan

Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger
-->