DR YUSUF QARDHAWY MENJAWAB KONTROVERSI AHOK AL MAIDAH 51
pendapat Yusuf Qaradhawi dalam kitabnya Nahnu wa al-Gharb. Surah Al-Maidah ayat 51 harus dipahami berdasarkan susunan dan asbabun nuzul-nya. Ayat tersebut turun dalam situasi dan hubungan politik yang tidak harmonis antara Islam dan non-Islam (Yahudi dan Nasrani).
Dalam ayat selanjutnya, Al-Maidah ayat 52 diungkapkan bahwa Yahudi dan Nasrani ketika itu memusuhi Islam dan mereka berada dalam kondisi yang kuat, sehingga banyak orang munafik bergabung dengan Yahudi dan Nasrani. Mereka rela mengorbankan agama dan umat, demi untuk lebih dekat dengan Yahudi dan Nasrani. Kondisi demikian membahayakan posisi kaum muslimin, dan akan semakin memperkuat Yahudi dan Nasrani yang saat itu memusuhi Islam.
Dengan demikian, menurut Qardhawi, surat Al-Maidah ayat 51 tidak secara mutlak melarang memilih pemimpin nonmuslim, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya, yaitu Al-Maidah ayat 57-58 yang intinya adalah larangan memilih pemimpin dari Yahudi atau Nasrani adalah jika mereka menghina agama Islam, meremehkan ajaran dan simbol Islam, menjadikan sebagai ejekan dan permainan sebagaimana diterangkan pada surat tersebut.
Pengertian larangan mengangkat pemimpin non-Muslim yang memusuhi Islam juga dijelaskan dalam surah Al-Mumtahanah ayat 1, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi pemimpin, kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena beriman keapda Allah, Tuhanmu.".
Ayat tersebut berisi larangan memilih pemimpin orang-orang yang menentang atau memerangi Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sangat logis karena tidak mungkin seseorang Muslim diperintahkan untuk memilih pemimpin orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Jadi, alasan seorang muslim tidak boleh memilih pemimpin nonmuslim adalah bukan karena perbedaan agama tetapi karena mereka melakukan tindakan menyakiti, merampas harta, dan mengusir umat Islam dari negerinya tanda dasar jelas.
BERIKUT INI ASBABUN NUZULNYA AL MAIDAH 51 BESERTA HADISNYA , .. Al-Quran, Al-Maidah 51
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi PEMIMPIN-PEMIMPIN (mu)....dst." (Al-Quran, Al-Maidah 5:51)
Kalimat kedua ayat tersebut berbunyi, "la tattakhidul yahuda wan nasaro awlia"
"la tattakhidul" = jangan mengambil
"yahuda wan nasaro" = yahudi & nasrani
"AWLIA" = ??
"awlia" TIDAK harus berarti pemimpin, bisa juga berarti penolong, sekutu, kawan, TERGANTUNG pada Asbabun Nuzul (sebab turun ayat), peristiwa yang memicu ayat tersebut difirmankan.
Ketika Abdillah bin Ubayyin bin Salul (seorang tokoh kaum munafikin Madinah) dan Ubadah bin shamit (seorang tokoh Muslim dari bani Khazraj) terlibat dalam ikatan perjanjian untuk saling bela membela dengan kaum Yahudi Qainuqa, yang ketika itu Bani Qunaiqa baru terlibat pertempuran dengan Rosulullah SAW, Ubadah bin Shamit berangkat menghadap Rosulullah untuk membersihkan diri dari ikatan perjanjian dengan kaum Yahudi Qainuna tersebut. Dia ingin membersihkan diri kepada Allah dan Rosul-Nya serta menggabungkan diri kepada tentara kaum muslimin. Dia berbai’at dengan setulus hati untuk membela panji-panji Islam di bawah pimpinan Rosululllah. Sedangkan Abdillah bin Ubayyin bin Salul tidak melibatkan diri dalam pertempuran tersebut. Peristiwa itu telah melatar-belakangi turunnya ayat ke-51
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai SEKUTU-SEKUTU-(mu)"
(diriwayatkan Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim & Imam Baihaqi)
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID