HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )

5/ 5 (99)
HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ)
==============================
.Dikutip dari Sahabat Facebook Salman Farisi
● Sebenarnya Sekte Wahabi ini, Sekte yang Aneh dan Membingungkan...!!
Baik itu Ulamanya juga para Penganutnya, Semuanya Saling bertentangan.
.
● Ada beberapa Situs dan FB milik Sekte Wahabi Mengatakan Bahwa: "Mengeraskan Dzikir Adalah Bid'ah..!!,
Sedangkan Para Ulama Sekte Wahabi sendiri Didalam
kitab-kitabnya mengatakan Sunah..!!.
.
#TRUS_ANAK_ANAK_WAHABI_INDO_NGIKUT_SIAPA.?!
.
■ Bin Baz (ulama Sekte Wahabi nomor Wahid) mengatakan dlm fatwanya bhwa:
Mengeraskan suara Dzikir adlah bagian dari sunnah Nabi Saw dan para sahabatnya.
Bahkan Bin Baz mengatakan,
“Dan bagi org di sekitarnya yg sedang mengerjakan Shalat, maka yg lebih Afdhal baginya ntk merendahkan sedikit (bacaan shalatnya),
Sehingga tidak mengganggu mereka (yg sedang berdzikir), krn mengamalkan dalil-dalil lain terkait hal itu… Disyariatkannya mengeraskan dzikir ketika org2 selesai Shalat wajib, dlm bentuk org2 yg ada di pintu2 Masjid (Nabawi) dan sekitar Masjid dpt mendengarnya, Sehingga mereka mengetahui Shalat (Nabi dan para sahabatnya) telah selesai dgn adanya itu (suara dzikir keras berjamaah).”
.
● Fatwa tersebut Termaktub dlm kitabnya berjudul
"MAJMU' FATWA", (kumpulan fatwa-fatwa Bin Baz)
- Jilid: 11
- Halaman 206-207.
Sebagai berikut:
.
ثبت في الصحيحين عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من الصلاة المكتوبة كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال ابن عباس رضي الله عنهما (كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته).
فهذا الحديث الصحيح وما جاء في معناه من حديث ابن الزبير والمغيرة بن شعبة رضي الله عنهما وغيرهما كلها تدل على شرعية رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة على وجه يسمعه الناس الذين عند أبواب المسجد وحول المسجد حتى يعرفوا انقضاء الصلاة بذلك.
(( ومن كان حوله من يقضي الصلاة فالأفضل له أن يخفض قليلاً حتى لا يشوش عليهم، عملاً بأدلة أخرى جاءت في ذلك)).
وفي رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة فوائد كثيرة: فيها إظهار الثناء على الله سبحانه وتعالى على ما مَنَّ به عليهم من أداء هذه الفريضة العظيمة. ومن ذلك تعليم للجاهل وتذكير للناسي، ولولا ذلك لخفيت السنة على كثير من الناس.
والله ولي التوفيق.
(مجموع فتاوى بن باز : ١١/٢٠٦)
.
Telah disebutkan dalam Kitab Shahihain (Shahih Bukhari & Shahih Muslim), dari jalur riwayat Ibnu Abbas Ra
(ia mengatakan):
“Sesungguhnya mengeraskan Dzikir saat selesai dari Shalat Wajib, itu telah ada di masa Rasulullah Saw.”
Ibnu Abbas juga mengatakan:
“Aku Tahu selesainya Shalat mereka (Nabi Saw dan para sahabatnya) itu,
Saat Kudengar (Suara dzikir Keras Berjamaah) itu.”
Hadist Shahih ini, dan Hadist-Hadist lain yang semakna dengannya,
Seperti Hadist riwayat Ibnuz Zubair, dan Al-Mughiroh Ibnu Syu’bah ra, semuanya menunjukkan Sisyariatkannya mengeraskan Dzikir ketika orang-orang selesai Shalat Wajib, dalam bentuk orang-orang yang ada di pintu-pintu Masjid (Nabawi) dan sekitar Masjid dapat mendengarnya,
Sehingga mereka mengetahui Shalat (Nabi dan para sahabatnya) telah selesai dengan adanya itu (suara Dzikir keras berjamaah).
“DAN BAGI ORANG DISEKITARNYA YANG SEDANG MENGERJAKAN SHALAT, MAKA YANG LEBIH AFDHAL BAGINYA UNTUK MERENDAHKAN SEDIKIT (bacaan Shalatnya) SEHINGGA TIDAK MENGANGGU MEREKA
(yang sedang berdzikir), KARENA MENGAMALKAN DALIL-DALIL LAIN TERKAIT HAL ITU.
Dalam tuntunan mengeraskan Dzikir ketika para jamaah selesai Shalat Wajib ini, ada banyak manfaat, diantaranya: menampakkan pujian kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan mereka kenikmatan bisa menjalankan kewajiban yang agung ini.
(Sebagai sarana untuk) mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lupa.
Jika saja tidak ada hal itu, tentunya Sunnah ini akan jadi samar bagi banyak orang.
Wallahu waliyyut Taufiq.”
○ Demikian kata Bin Baz dalam fatwanya.
HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN ) salafy


2. HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (UTSAIMIN).
==============================
.
#trus_anak_wahabi_indo_ngikut_siapa.!?
.
■ Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin (ulama Sekte Wahabi nomor dua setelah Bin Baz)
Didalam kitabnya:
"MAJMU' FATAWA WA RASA'IL".
- Jilid: 13
- Halaman: 247-250
Mengatakan:
.
إن الجهر بالذكر بعد الصلوات المكتوبة سنة،
دل عليها ما رواه البخاري من حديث عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم قال: “وكنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته”.
(ورواه الإمام أحمد وأبو داود).
وهذا الحديث من أحاديث العمدة،
وفي الصحيحين من حديث المغيرة بن شعبة – رضي الله عنه – قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا قضى الصلاة:
“لا إله إلا الله وحده لا شريك له”.
الحديث، ولا يسمع القول إلا إذا جهر به القائل.
وقد اختار الجهر بذلك شيخـ الإسلام ابن تيميه -رحمه الله- وجماعة من السلف، والخلف، لحديثي ابن عباس، والمغيرة رضي الله عنهم.
والجهر عام في كل ذكر مشروع بعد الصلاة سواء كان تهليلاً، أو تسبيحاً، أو تكبيراً، أو تحميداً لعموم حديث ابن عباس،
ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم التفريق بين التهليل وغيره بل جاء في حديث ابن عباس أنهم يعرفون انقضاء صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالتكبير، وبهذا يعرف الرد على من قال لا جهر في التسبيح والتحميد والتكبير. وأما من قال: إن الجهر بذلك بدعة فقد أخطأ فكيف يكون الشيء المعهود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم بدعة...؟!
… وأما احتجاج منكر الجهر بقوله تعالى: (وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ).
فنقول له: إن الذي أمر أن يذكر ربه في نفسه تضرعاً وخيفة هو الذي كان يجهر بالذكر خلف المكتوبة، فهل هذا المحتج أعلم بمراد الله من رسوله، أو يعتقد أن الرسول صلى الله عليه وسلم يعلم المراد ولكن خالفه...؟!
… وأما احتجاج منكر الجهر أيضاً بقوله صلى الله عليه وسلم: “أيها الناس اربعوا على أنفسكم”. الحديث فإن الذي قال: “أيها الناس أربعوا على أنفسكم” هو الذي كان يجهر بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، فهذا له محل، وذاك له محل، وتمام المتابعة أن تستعمل النصوص كل منها في محله…
أما من قال: إن في ذلك تشويشاً فيقال له: إن أردت أنه يشوش على من لم يكن له عادة بذلك، فإن المؤمن إذا تبين له أن هذا هو السنة زال عنه التشويش، إن أردت أنه يشوش على المصلين، فإن المصلين إن لم يكن فيهم مسبوق يقضي ما فاته فلن يشوش عليهم رفع الصوت كما هو الواقع، لأنهم مشتركون فيه.
وإن كان فيهم مسبوق يقضي فإن كان قريباً منك بحيث تشوش عليه فلا تجهر الجهر الذي يشوش عليه لئلا تلبس عليه صلاته، وإن كان بعيداً منك فلن يحصل عليه تشوش بجهرك.
وبما ذكرنا يتبين أن السنة رفع الصوت بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، وأنه لا معارض لذلك لا بنص صحيح ولا بنظر صريح، وأسأل الله تعالى أن يرزقنا جميعاً العلم النافع والعمل الصالح، إنه قريب مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
.
Sesungguhnya mengeraskan Dzikir saat selesai Shalat Wajib adalah Sunnah, Hal itu telah diterangkan dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Hadistnya Abdullah ibnu Abbas ra
(ia mengatakan),
“Sesungguhnya mengeraskan Dzikir saat selesai dari Shalat Wajib, itu telah ada di masa Rasulullah Saw.”
Ibnu Abbas juga mengatakan:
“Aku tahu selesainya shalat mereka itu, Saat Kudengar
(suara zikir keras berjamaah) itu”.
Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Hadis ini termasuk diantara Hadis-Hadis Utama
(dalam masalah ini).
Dalam kitab Shahihain, dari Hadistnya Al-Mughirah ibnu
Syu’bah ra, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Nabi Saw jika selesai Shalat (wajib), beliau membaca Dzikir “La Ilaha Ilallahu Wahdahu La Syarika lah…” (al-Hadist).
Dan dia tidak akan mendengar bacaan Dzikir itu kecuali orang yang mengucapkannya mengeraskan suaranya.
(Bahkan) Syaikhul Islam Ibnu T aimiyah dan sekelompok ulama Salaf telah memilih pendapat (sunnahnya) mengeraskan Dzikir, dengan dasar Dua Hadist,
Yakni Hadistnya Ibnu Abbas dan Al-Mughirah ra.
Mengeraskan Dzikir di sini, berlaku umum untuk semua Dzikir setelah Shalat yang disyariatkan,
Baik itu berupa Tahlil, atau Tasbih, atau Takbir, atau Tahmid. Karena umumnya redaksi Hadist Ibnu Abbas.
Dan tidak ada keterangan dari Nabi Saw yang membedakan antara Tahlil dan yang lainnya.
Bahkan dalam Hadistnya Ibnu Abbas dikatakan,
Bahwa para sahabat dahulu tahu selesainya Shalat Nabi Saw dengan Takbir.
Keterangan ini, membantah orang yang berpendapat tidak bolehnya Mengeraskan suara kecuali pada Tasbih, Tahmid dan Takbir.
Adapun orang yang mengatakan,
Bahwa mengeraskan (dzikir setelah shalat) itu Bid’ah,
Maka sungguh ia Salah,
Karena bagaimana mungkin sesuatu yang ada di zaman Nabi Saw dikatakan bid’ah...??!
Adapun orang yang mengingkari Amalan Mengeraskan
(Dzikir setelah shalat ini) dengan firman-Nya:
“Sebutlah (wahai Muhammad) nama Tuhanmu di dalam dirimu, dengan rendah hati dan suara yang lirih serta tidak mengeraskan suara, ketika pagi dan petang.
Dan janganlah kamu menjadi orang yang Lalai”
(QS. al-A’raf: 205).
→ Maka bisa dijawab dengan mengatakan:
Sesungguhnya orang yang telah diperintahkan untuk berzikir dalam dirinya dengan rendah hati dan suara lirih
(yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam),
Beliau juga orang yang telah mengeraskan Dzikir setelah Shalat wajib.
Lalu apakah orang (Nabi Saw) itu (orang yang mengingkari dzikir keras berjamaah) lebih tahu maksud Allah dalam ayat itu melebihi rasul-Nya....???!
Ataukah ia beranggapan bahwa Rasululullah Saw sebenarnya tahu maksud ayat itu,
Tapi beliau sengaja menyelisihinya....??!
Adapun orang yang Mengingkari Amalan mengeraskan
(Dzikir setelah shalat ini) dengan sabda Beliau Saw:
“Wahai manusia, sayangilah diri kalian, karena kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang Tuli…! (sampai akhir Hadist)”.
→ Maka bisa dijawab dengan mengatakan:
Sesungguhnya orang yang menyabdakan hal itu,
Dia juga orang yang dulunya mengeraskan Dzikir setelah Shalat wajib ini.
Itu berarti, Tuntunan ini punya tempatnya masing-masing, sedangkan yang itu juga ada tempatnya masing-masing.
Dan sempurnanya mengikuti Sunnah Beliau adalah dengan memakai semua Nash yang Ada, pada tempatnya
masing-masing.
Adapun orang yang mengatakan bahwa Amalan itu bisa mengganggu orang lain,
.
→ Maka bisa dijawab dengan mengatakan padanya:
Jika maksudmu akan mengganggu orang yang tidak biasa dengan hal itu,
Maka hal itu akan hilang (dengan sendirinya), ketika ia tahu bahwa amalan itu adalah Sunnah.
Jika maksudmu akan mengganggu Jama’ah yang lain,
Maka jika tidak ada Ma’mum yang Masbuq,
Tentu hal itu tidak akan mengganggu mereka, sebagaimana fakta di lapangan.
Karena mereka sama-sama mengeraskan Dzikirnya.
Adapun jika ada Ma’mum Masbuq yang sedang menyelesaikan Shalatnya,
.
Maka jika ia dekat denganmu hingga kamu bisa mengganggunya dengan (kerasnya) suara Dzikirmu,
Maka janganlah kamu meninggikan suara dengan tingkatan suara yang bisa mengganggunya,
Agar kamu tidak mengganggu Shalatnya.
Sedang jika ia jauh darimu, Maka tentu kerasnya suara (zikir)-mu tidak akan mengganggunya sama sekali.
Dengan keterangan yang kami sebutkan di atas,
Menjadi jelas bagi kita, bahwa mengeraskan Dzikir setelah
Shalat Wajib adalah Sunnah.
.
Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang Shahih, maupun dengan sisi Dalil yang jelas.
Aku memohon kepada Allah,
Semoga Dia memberikan kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih,
Sesungguhnya Dia itu Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan Doa. Semoga Allah s.w.t. senantiasa mencurahkan Shalawat dan Salamnya kepada Nabi kita Muhammad, Keluarganya dan Sahabatnya semua.”
.
DEMIKIAN KATA SYAIKH IBNU UTSAIMIN DALAM FATWANYA.
HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )3HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )1

HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )5



HUKUM MENGERASKAN DZIKIR MENURUT ULAMA SEKTE WAHABI TALAFI (BIN BAZ dan UTSAIMIN )4

0 komentar