Mei 2016

ANTI TERORIS-KHOWARIJ FITNAHTAN LIL ALAMIN membongkar kesesatan dan bahaya ajaran wahabi tanduk setan ahlul fitnah dari najd berdasarkan al qur'an dan as sunnah serta pendapat fatwa para ulama sunni

presiden Jokowi panggil Aqil siraj,indonesia darurat wahabi takfiri

presiden Jokowi panggil Aqil siraj,indonesia darurat wahabi takfiri
Presiden Joko Widodo(Jokowi) meminta pemuka agama NU, dan Kyai-kyai NU agar menekankan dalam khotbah-khotbahnya maupun di masyarakat terhadap masalah terorisme, radikalisme, dan narkoba. Permintaan ini disampaikan secara khusus oleh Presiden Jokowi kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siradj, yang diundangnya datang ke Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (5/2) siang.“Terus saya jawab, NU sejak dulu Pak, NU sejak dulu diminta atau tidak diminta, kyai-kyai itu yang disampaikan,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj kepada wartawan seusai bertemu dengan Presiden Jokowi.Menurut Said Aqil, untuk menghadapi paham-paham yang mengandung radikalisme, terorisme, dan narkoba itu, nantinya kyai-kyai NU akan menjadi narasumber pada media mainstream pemerintah seperti TVRI dan RRI.“Kita, kyai-kyai ini juga diminta bicara di media mainstream pemerintah, apa itu TVRI,apa itu RRI, narasumbernya dari NU yang tidak diragukan lagi nasionalismenya,” kata Said.Menanggapi banyaknya gerakan-gerakan yang mengajarkan paham-paham radikalisme ataupun Syiah dan Ahmadiyah, Ketua Umum PBNU itu mengatakan, bahwa hal ini sebetulnya bukan hal baru.“Ini bukan barang baru, Cuma dulu tidak adaadu fisik atau bakar-bakar. Baru- baru saja belakangan ini,” imbuhnya.Saat menerima dirinya itu, menurut Said, Presiden Jokowi secara langsung menugaskan Menko Polhukam dan Menteri Agama untuk mengatur peraturan tentang ajaran dan paham sesat dan radikalisme ini. Menurutnya, kondisi saat ini sudah sangat darurat. “Dengan kondisi yang darurat ini maka penanganannya harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.Said mengingatkan, apa yang terjadi di TimurTengah tidak mustahil terjadi pada kita. Karena sudah jelas tanda-tandanya. “Ini isu yang sensitif sekali,” tegasnya.Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin itu, menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, tidak ada pembahasan politik selain membahas mengenai konflik Syiah di Jawa Timur, Gafatar, ajaran radikal dan terorisme serta narkoba.(FID/ES/setkab.go.id)Source: Muslimoderat.com
berkedok murnikan tauhid, manhaj takfiri sangat ditakuti Rosulullah(sahih)
" Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201)
presiden Jokowi panggil Aqil siraj,indonesia darurat wahabi takfiri

presiden Jokowi panggil Aqil siraj,indonesia darurat wahabi takfiri

Presiden Joko Widodo(Jokowi) meminta pemuka agama NU, dan Kyai-kyai NU agar menekankan dalam khotbah-khotbahnya maupun di masyarakat terh...
4.82/ 5 (91)
Presiden Joko Widodo(Jokowi) meminta pemuka agama NU, dan Kyai-kyai NU agar menekankan dalam khotbah-khotbahnya maupun di masyarakat terh...
4 Dari 5 BINTANG

peringatan keras tokoh ulama sunni dunia pada ormas wahabi HTI

KH. A Hasyim Muzadi menerima kunjungan pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok Jawa Barat, Rabu (4/5/2016).
Berikut ini 7 poin himbauan dan nasehat KH. A Hasyim Muzadi dari hasil pertemuan tersebut khusus untuk HTI dan NU/Ansor yang belakangan ini diberitakan berseberangan hingga terjadi penolakan dibeberapa daerah.
KH. A HASYIM MUZADI MEMPERINGATKAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA ( HTI )
1. Hari Rabu 4 mei 2016 jam 12.00 sd jam 14.15 Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir berkunjung ke kediaman KH Hasyim Muzadi di Pesantren Al-Hikam Depok untuk mendiskusikan masalah keagamaan dan kebangsaan.
2. Disampaikan kepada HTI hendaknya jangan ada sedikitpun keinginan serta tema-tema perjuangan HTI seperti ” Penegakan Khilafah” , “tidak setuju NKRI dan Pancasila” yang dapat dikesankan HTI akan membuat Negara Baru . Sebenarnya HTI cukup mengisi indonesia dengan syariat islam rahmatan lil alamin, bukan membuat Negara Indonesia Baru.
3. Dengan adanya membuat tema-tema negara baru, HTI sama artinya dengan mempersenjatai musuh islam ( Islamo Phobia ) untuk menggunakan kekuasaan Negara Indonesia guna menyerang HTI dan juga Islam.
4. Pancasila telah diterima kaum muslimin indonesia melalui proses panjang (kurang lebih 40 tahun) maka jangan dipersoalkan lagi.
Dimulai dari perjuangan bersenjata : DI/TII, permesta/PRRI, perjuangan konstitusional melalui konstituante, sampai NU menjadi partai politik, bergabung dengan PPP, semuanya tidak ada yg cocok bahkan menjadikan untuk kaum muslimin ,…. akhirnya pada tahun 1984 menetapkan Pancasila sebagai asas negara dan islam ahlussunnah sebagai idiologi NU, sebagaimana tertera dalam Khittah NU. Hendaknya proses panjang ini tidak dicederai.
5. NU/ANSOR jangan menyelesaikan masalah HTI dengan cara kekerasan karena akan terkesan NU/ANSOR mendiamkan akan timbulnya PKI di Indonesia, di lain sisi ganas kepada sesama muslim. Saya yakin PKI jauh lebih berbahaya dari HTI, baik ukuran agama maupun ukuran negara. Bahkan bisa terkesan pengalihan masalah dari PKI ke HTI.
6. Penyelesaian HTI oleh NU hendaknya dimulai dengan musyawarah agar NU dapat menjadi pemimpin umat islam Indonesia. Semoga himbauan saya didengar HTI. Tidak perlu khilafah, terimalah NKRI dan Pancasila.
7. NU/ANSOR jangan terkecoh kepada Islamo Pobhia. ,Depok, 04 Mei 2016
peringatan keras tokoh ulama sunni dunia pada ormas wahabi HTI

peringatan keras tokoh ulama sunni dunia pada ormas wahabi HTI

KH. A Hasyim Muzadi menerima kunjungan pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok Jawa Barat, R...
4.82/ 5 (91)
KH. A Hasyim Muzadi menerima kunjungan pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok Jawa Barat, R...
4 Dari 5 BINTANG

ulama sunni menggugat aqidah wahabi tanduk setan

ulama sunni menggugat aqidah wahabi tanduk setan laknatullah
Kitab Syarh Shahih Muslim (Imam Nawawi) & at-tidzkar fi afdhali al-adzkar (Imam Qurtubi) : Hadits “jariyah” bukan Dalil Dzat Allah bertempat / di dalam langit

Hadits Jariyah Menurut Imam Nawawi

Sebuah Hadits yang biasa digunakan Salafi Wahabi untuk menipu ummat demi membenarkan aqidah sesat mereka, siasat sesat ini memang sangat efektif untuk menyesatkan orang awam, karena mereka berdusta atas nama Rasulullah SAW, yaitu satu kisah seorang hamba (jariyah) yang terdapat dalam satu Hadits, ketika Rasul bertanya kepada hamba tersebut “Dimana Allah” lalu hamba tersebut menjawab “di atas langit”. Tentu saja bila diartikan dengan hawa nafsu, kisah tersebut sudah cukup meyakikan bahwa “Allah berada di atas langit” dengan tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman dan penjelasan para ulama tentang kisah jariyah tersebut, dan ternyata tidak ada satupun ulama salaf atau khalaf yang berdalil dengan kisah jariyah ini seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, bahkan kisah jariyah tersebut terdapat kontroversi yang banyak baik pada sanad nya maupun pada matan nya, dan terlepas dari segala kontroversi yang ada pada nya, bila ingin berpegang dengan kisah tersebut, tentu harus melihat dan mempertimbangkan bagaimana cara Ulama memahami kisah jariyah itu, kecuali bagi mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu nya atas pemahaman para Ulama.
Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :
Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوضفي معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هيموحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لأنه منحصر فيالسماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بينأيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهمومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عندجميعهم
“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kalipada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwaAllah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk, dan yang keduaadalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini(pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yangbertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allahsemata, dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimanabila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah, dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada dilangit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah, tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orangberdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembahberhala yang ada di hadapan mereka, maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalahorang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala. berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaummuslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwamakna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasaaman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimanadhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان
“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman”
Maksudnya : Nash-nash tentang sifat Allah, baik Hadits atau Al-Quran, ada dua pendapat yang kedua pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus Sunnah, sementara pendapat ketiga yakni pendapat Salafi Wahabi tidak termasuk dalam salah satu dari dua Madzhab tersebut, membuktikan bahwa Salafi Wahabi bukan saja menyalahi Madzhab Salaf, tapi juga menyalahi seluruh Ahlus Sunnah baik Salaf maupun Khalaf, dan di sini dapat dipahami bahwa metode memahami ayat dan hadits sifat tidak mesti dengan satu metode yang sama, karena ini adalah masalah khilaf, dan metode Salafi Wahabi telah menyimpang dari khilafiyah.
أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات
”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalahberiman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebutTafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.
والثاني تأويله بما يليق به
“dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang kedua dalam memahami nash-nash sifat adalah :Menta’wilnya atau memaknai nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, artinya dengan makna yang telah ada nash bahwa Allah boleh bersifat dengan sifat tersebut, inilah yang di sebut Ta’wil Tafsili, dan inilah Manhaj sebagian ulama Salaf dan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan Manhaj ini tidak menyalahi Manhaj pertama di atas, karena sama meyakini dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, bedanya Manhaj pertama tidak menentukan apa makna yang layak tersebut, dan Manhaj kedua ini menentukan makna yang layak tersebut, dan Salafi Wahabi juga menyalahi Manhaj ini, bahkan mereka sangat anti dengan Manhaj ini, karena Salafi wahabi memaknainya dengan makna dhohir yang di situ terdapat penyerupaan dan tidak layak dengan keagungan Allah, dan Tasybih yang ada pada makna dhohir itu tidak akan hilang meskipun di tepis dengan seribu kali berkata “tapi tidak sama dengan kaifiyat makhluk”. Maka Manhaj Salafi Wahabi meyalahi dua Manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah ini.
فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده
“maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata”
Maksudnya : Setelah Imam Nawawi menguraikan dua Madzhab Ahlus Sunnah dalam menanggapi nash-nash sifat, di sini Imam Nawawi juga menjelaskan bagaimana menerapkan nya dalam masalah Hadits Jariyah ini, dan karena pada pendapat atau Madzhab yang pertama adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” maka tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk Madzhab pertama, maka atas Madzhab pertama ketika Rasul bertanya “aina Allah” tidak berarti Rasul bertanya dimana tempat Allah, dan juga ketika hamba tersebut manjawab “fis sama’ “ juga tidak menunjukkan Allah berada atau bersemayam di langit, karena sebagaimana telah digariskan di atas bahwa Madzhab pertama “beriman dengan tidak memaknai nya”. Imam Nawawi hanya menjelaskan panjang lebar tentang memahami Hadits Jariyah atas Madzhab yang kedua yakni “memaknai nya dengan makna yanglayak” atau di sebut dengan Ta’wil Tafsili, maka maksud Rasullullah bertanya “dimana Allah” hanya untuk mengetahui apakah hamba tersebut Muslim atau Kafir, Rasulullah bukan mempertanyakan apakah ia mayakiniAllah berada di langit atau meyakini Allah ada tanpa tempat atau meyakini Allah ada dimana-mana, cuma ketika Tuhan-Tuhan yang disembah saat itu adalah berhala, maka ketika ia menjawab “di atas langit” dapatlah diketahui bahwa ia bukan penyembah berhala, maka jawaban nya tersebut adalah caranya mengingkari berhala, bukan untuk menyatakan sebuah Aqidah bahwa Allah berada di atas langit.
وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة
“dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah”
Maksudnya : Ini adalah sebagai alasan atau hubungan kenapa ketika hamba tersebut manjawab “di atas langit”  dapatlah dipahami bahwa ia bukan penyembah berhala tapi ia adalah orang yang percaya kepada Allah, karena orang yang berdoa meminta kepada Allah, ia menggangkat tangan ke langit, tapi tidak berarti Allah berada di langit, karena ketika orang sholat menyembah Allah, justru menghadap Ka’bah, dan fakta nya Allah tidak berada di Ka’bah, begitu juga Allah tidak berada di atas langit.
وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة
“dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah”
Maksudnya : Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa mengangkat tangan ke langit bukan karena Allah berada di langit sebagaimana menghadap Ka’bah ketika Sholat bukan karena Allah berada di Ka’bah.
بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين
“tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat”
Maksudnya : Kenapa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa bila Allah bukan berada di atas langit, jawaban nya adalah karena langit adalah Kiblat orang berdoa sebagaimana Kiblat orang Sholat adalah Ka’bah, maka ketika Sholat menghadap Ka’bah tidak berarti Allah berada di Ka’bah, begitu juga ketika berdoa mengangkat tangan ke langit tidak berarti Allah berada di atas langit, inilah akidah Ahlus Sunnah waljama’ah, Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, Allah tidak bertempat di langit sebagaimana Allah tidak bertempat di bumi.
أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم
“ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka”
Maksudnya : ini adalah sambungan dari ..هل هي موحدة Artinya Rasulullah bertanya kepada nya untuk mengetahui apakah ia menyembah Allah atau penyembah berhala, yang tentu saja ia akan menjawab di bumi atau di rumah nya bila ia adalah penyembah berhala.
فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان
“maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala”
Maksudnya : Dari jawaban hamba tersebut “di atas langit” Rasulullah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang percaya kepada Allah, dan inilah tujuan Rasullah bertanya “dimana Allah”. Rasulullah ingin mengetahui Islamkah dia atau bukan, Rasulullah bukan ingin mengetahui bertauhidkah dia atau tidak, dan hubungan nya sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Allah memerintahkan orang berdoa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa, dan ini bukan berarti Allah berada di atas langit, maka ketika hamba tersebut menjawab kepada Rasulullah dengan “di atas langit”  maka Rasulullah tahu bahwa ia beriman kepada Allah, maka Hadits ini bukan sebagai bukti atau dalil bahwa Allah berada di atas langit.
قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالىأأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم
“berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
Maksudnya : Sebagai penguat sekaligus rujukan terhadap apa yang telah diuraikan oleh Imam Nawawi, beliau menampilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh tentang kata “fis sama’ “ yang ada dalam al-Quran, al-Qadhi ‘Iyadh berkata : tidak ada khilaf atau telah Ijma’ semua Ulama bahwa makna dhohir dari ayat yang menunjukkan Allah di atas langit bukan maksud dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua Ulama, artinya Ijma’ wajib Ta’wil nash-nash Mutasyabihat, baik dengan Ta’wil Ijmali (Tafwidh) atau dengan Ta’wil Tafsili, dan memahami dan beriman dengan makna dhohir sebagaimana Manhaj Salafi Wahabi berarti telah melangkahi Ijma’ danmelangkahi pemahaman Ulama demi pemahaman sendiri, dan dari uraian di atas dapatlah dipastikan bahwa tidak ada satu pun Ulama Salaf dan Khalaf yang berdalil dengan Hadits jariyah seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, tidak ada satupun Ulama Salaf atau Khalaf yang mengatakan bahwa Hadits Jariyah adalah dalil Allah bersemayam di atas langit, na’uzubillah
Maha suci Allah dari arah dan tempat.

Hadits Jariyah Menurut Imam al-Qurthubi

Tahukah anda, bagaimana pandangan Imam al-Qurthubi tentang Hadits Jariyah? mari kita simak pemahaman beliau tentang Hadits Jariyah, adakah beliau sepakat dengan pemahaman Salafi Wahabi atau justru Salafi Wahabi telah menyalahi dan meninggalkan pemahaman beliau, sebagaimana Salafi Wahabi menyalahipemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah dan pemahaman Imam Nawawi tentang Hadits Jariyah dan semua ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah, sebagian Salafi Wahabi bahkan berani mengatakan Imam Nawawi sesat dalam akidah nya dalam masalah asma’ wa sifat, bahkan mungkin mereka akan mengatakan bahwa Imam al-Qurthubi juga sesat karena ternyata Imam al-Qurthubi bertolak belakang dengan akidah mereka.
Imam al-Qurthubi berkata :
تنبيه: قوله عليه السلام: ((كل ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما فهو مخلوق غير الله والقرآن)) مثل قولهتعالى: {لله ما في السماوات وما في الأرض} فما في الآية والحديث بمعنى الذي وهي متناولة لمن يعقل وما لا يعقل منغير تخصيص فيها بوجه. لأن كل من في السماوات والأرض وما فيهما وما بينهما خلق الله تعالى وملك له، وإذا كان ذلك كذلك يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض، إذ لو كان في شيء لكان محصوراً أو محدوداً، ولو كان ذلك لكان محدثاً، وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق.
وعلى هذه القاعدة قوله تعالى: {أأمنتم من في السماء} وقوله عليه السلام للجارية ((أين الله؟)) قالت في السماء ولمينكر عليها وما كان مثله ليس على ظاهره بل هو مؤول تأويلات صحيحة قد أبداها كثير من أهل العلم في كتبهم. وقدبسطنا القول في هذا بكتاب الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى وصفاته العلى عند قوله تعالى: {الرحمن على العرشاستوى}.
“Peringatan : Sabda Nabi SAW “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka ituadalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” itu seperti firman Allah “milik Allah segala sesuatuyang ada di langit dan yang ada di bumi” dan (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي) yaitusesuatu yang termasuk bagi yang berakal dan yang tidak berakal tanpa terkhusus dengan apa pun, karena segalasesuatu (yang berakal) di lanngit dan di bumi, dan segala sesuatu yang (tidak berakal) yang ada pada kedua nya,dan di antara kedua nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya, dan bila demikian maka mustahil bagi Allah bahwaAllah berada di langit atau di bumi, karena bila Allah berada pada sesuatu, sungguh Allah menjadi dibatasi, danbila demikian, sungguh Allah itu menjadi baharu. Dan inilah madzhab ahlul haq dan tahqiq. Dan berdasarkan ataskaidah ini, firman Allah taala “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan juga sabda NabiSAW bagi seorang budak (hamba sahaya) “aina Allah ?” hamba tersebut manjawab “di langit” sedangkan Nabitidak atas jawaban nya, dan nash-nash yang seperti itu, bukanlah atas dhohir nya, tetapi dita’wilkan dengan ta’wilyang benar, yang telah dinyatakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, dan kami pun telah menguraikanpendapat tentang ini dalam kitab al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala“ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”.[Lihat kitab at-tidzkar fi afdhali al-adzkar –halaman 13-14, karangan Imam al-Qurthubi w-671 H]
PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI



KETERANGAN
تنبيه: قوله عليه السلام: ((كل ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما فهو مخلوق غير الله والقرآن)) مثل قوله تعالى: {لله ما في السماوات وما فيالأرض}
“Peringatan : Sabda Nabi SAW “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka itu adalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” itu seperti firman Allah “milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi”
Maksudnya : Imam al-Qurtubi pada bab ini sedang menjelaskan mana sesungguhnya Al-Quran yang hakikat sifat kalam Allah yang akibat nya menjadi kafir bila mengatakan itu makhluk, sulit nya masalah ini sehingga banyak yang salah sangka dan menduga bahwa Al-Quran (sifat kalam Allah yang qadim dan bukan makhluk) adalah Al-Quran yang diturunkan dan diwahyukan dan dibacakan dan berhuruf dan bersuara dan berbahasa Arab, dan termasuk Salafi Wahabi salah paham dalam masalah ini, sementara Imam al-Qurthubi dan semua ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk, termasuk Al-Quran firman Allah yang diturunkan dan diwahyukan dan dibacakan dan berhuruf dan bersuara dan berbahasa Arab itu, sekalipun itu disebut juga dengan Al-Quran dan dengan kalam Allah, sementaraAl-Quran atau kalam Allah yang bukan makhluk yang menjadi sifat Allah adalah ada pada dzat Allah, tidak berhuruf dan tidak bersuara, inilah yang dimaksud dengan Al-Quran yang bukan makhlukinilah hakikat sifat kalam Allah, dan inilah yang dihukumi kafir secara ijma’ bagi orang yang mengatakan Al-Quran ini (sifat yang adapada dzat-Nya) adalah makhluk, karena telah mensifatkan Allah dengan makhluk, maka orang yang memakhlukkan Al-Quran bukanlah orang yang mengatakan bahwa Al-Quran (yang diturunkan dan diwahyukan) adalah makhluk, karena yang diturunkan dan yang diwahyukan tersebut adalah makhluk, tetapi orang yang memakhlukkan Al-Quran adalah orang yang mengatakan bahwa Al-Quran yang diturunkan dan diwahyukan itu adalah sifat kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul, karena ia telah mensifati Allah dengan makhluk (wahyu yang diturunkan), sedangkan sifat kalam Allah bukan makhluk, wallahu a’lam. Sekali lagi bahwa ini masalah yang sulit dibedakan, menjelaskan nya bahaya karena bisa salah pengertian, tidak menjelaskan nya pun lebih bahaya lagi, sehingga banyak yang tergelincir karena nya, hendak nya bagi orang yang tidak ceroboh dalam beragama berpegang dengan Ayat dan Hadits di atas yang telah diingatkan oleh Imam al-Qurthubi, yang intinya bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk, bukan Allah dan bukan sifat-sifat Nya termasuk sifat kalam-Nya, Al-Quran yang menjadi sifat kalam-Nya ada pada dzat Allah, bukan yang ada dalam makhluk-Nya yakni langit dan bumi dan di antara nya.
فما في الآية والحديث بمعنى الذي وهي متناولة لمن يعقل وما لا يعقل من غير تخصيص فيها بوجه
“dan (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي) yaitu sesuatu yang termasuk bagi yang berakal dan yang tidak berakal tanpa terkhusus dengan apa pun”
Maksudnya : (ما) biasa nya adalah sesuatu benda atau makhluk yang tidak berakal, tapi maksud dalam Ayat dan Hadits di atas adalah sama dengan makna (الذي) yaitu sesuatu apa pun, baik benda atau makhluk hidup, baik berakal atau tidak berakal tanpa terkecuali, termasuk Al-Quran yang diwahyukan dan diturunkan ke bumi, biar pun ini disebut juga kalamulllah, tapi bukan kalamullah sifat dzat Allah yang azali.
لأن كل من في السماوات والأرض وما فيهما وما بينهما خلق الله تعالى وملك له
“karena segala sesuatu (yang berakal) di lanngit dan di bumi, dan segala sesuatu yang (tidak berakal) yang ada pada kedua nya, dan di antara kedua nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya”
Maksudnya : Karena tanpa keraguan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk dan milik-Nya, baik yang berakal maupun yang tidak berakal, maka nya (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي), maka di pahami dari Ayat dan Hadits di atas bahwa Allah dan sifat-sifat Nya tidak ada di langit atau di bumi atau di antara kedua nya, karena segala yang ada di situ adalah makhluk dan milik-Nya, sementara Allah dan sifat-sifat Nya bukan makhluk.
وإذا كان ذلك كذلك يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض
“dan bila demikian maka mustahil bagi Allah bahwa Allah berada di langit atau di bumi”
Maksudnya : Ketika tanpa keraguan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, maka pastilah Allah mustahil berada di langit (termasuk di ‘Arasy) atau di bumi, dan apa yang di pahami oleh sebagian orang bahwa Allah berada di atas ‘Arasy adalah pemahaman yang salah dari dhohir dhohir ayat atau hadits, karena bertentangan dengan Ayat dan Hadits di atas.
إذ لو كان في شيء لكان محصوراً أو محدوداً
“karena bila Allah berada pada sesuatu, sungguh Allah menjadi dibatasi”
Maksudnya : Keberadaan Allah pada/dalam sesuatu dari pada makhluk-Nya baik langit atau bumi adalah sesuatu yang mustahil, karena menjadikan Allah terbatas pada sesuatu tersebut, padahal Allah tidak terbatas dengan sesuatu pun sebelum ada makhluk-Nya
ولو كان ذلك لكان محدثاً
“dan bila demikian, sungguh Allah itu menjadi baharu”
Maksudnya : Dan bila Allah dibatasi oleh sesuatu, sungguh Allah telah menjadi baharu dan berubah, inilah alasan kenapa Allah mustahil berada atau bertempat pada sesuatu baik langit atau bumi, dan ini pula sisi kesamaan dengan makhluk, yaitu sama-sama bersifat dengan sifat makhluk (hawadits), jadi diri sifat tersebut adalah makhluk, mensifatkan Allah dengan sifat tersebut berarti telah mensifati-Nya dengan kemakhlukan sifat tersebut, maka tidak ada guna berkilah bahwa “bersemayam Allah” dengan “bersemayam makhluk” tidak sama, karena diri sifat bersemayam tersebut adalah makhluk (sifat haditsah) yang tidak ada pada azali, sementara Allah dan segala sifat-Nya adalah qadim atau azali.
وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق
“Dan inilah madzhab ahlul haq dan tahqiq”
Maksudnya : Pemahaman Ahlul haq yakni Ahlus Sunnah Waljama’ah dalam masalah ini, baik Salaf maupun Khalaf, adalah Allah mustahil berada pada makhluk-Nya dan makhluk pun mustahil berada pada dzat Allah, baik di langit maupun di bumi, Allah dan sifat-sifat Nya ada sebelum ada makhluk dan Allah dan sifat-sifat Nya tidak berubah atau bertambah.
وعلى هذه القاعدة قوله تعالى: {أأمنتم من في السماء} وقوله عليه السلام للجارية ((أين الله؟)) قالت في السماء ولم ينكر عليها وما كان مثله ليس علىظاهره
“Dan berdasarkan atas kaidah ini, firman Allah taala “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan juga sabda Nabi SAW bagi seorang budak (hamba sahaya) “aina Allah ?” hamba tersebut manjawab “di langit” sedangkan Nabi tidak atas jawaban nya, dan nash-nash yang seperti itu, bukanlah atas dhohir nya”
Maksudnya : Berdasarkan kaidah ini yaitu “mustahil Allah berada pada/dalam makhluk-Nya” sesuai dengan dua ayat dan hadits di atas yakni sabda Nabi “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka itu adalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” dan firman Allah “milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi” maka pada ayat dan hadits yang dhohirnya menunjukkan bahwa Allah berada di langit atau di ‘Arasy seperti firman Allah “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan seperti pada Hadits Jariyah, ayat dan hadits yang seperti ini tidak dimaksudkan dengan dhohir makna nya yang menunjukkan Allah berada di langit, maka itu bukan dalil bahwa “Allah berada di atas langit” kecuali mereka yang condong hati nya kepada kesesatan, rela mendustai Al-Quran dan As-Sunnah demi membela akidah yang menyalahi akidah mayoritas ulama Salaf dan Khalaf.
بل هو مؤول تأويلات صحيحة
“tetapi dita’wilkan dengan ta’wil yang benar”
Maksudnya : Nash-nash yang dhohir nya menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit tersebut tidak dipahami dengan dhohir makna nya, tetapi dita’wilkan dengan ta’wil yang benar, dan ta’wil yang benar adalah ta’wil yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, mayoritas Salaf memilih ta’wil ijmali atau tafwidh makna, dan mayoritas Khalaf memilih ta’wil tafsili, tapi perbedaan pada ta’wil ini tidak menjadi masalah, selama tidak menyalahi Al-Quran dan Hadits, dan sepakat para ulama Salaf dan Khalaf bahwa memahami nya dengan dhohir makna nya adalah menyalahi dengan Al-Quran dan Hadits.
قد أبداها كثير من أهل العلم في كتبهم
“yang telah dinyatakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka”
Maksudnya : Ta’wil-ta’wil nya telah diterangkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, lihatlah bagaimana seorang Imam al-Qurthubi sama sekali tidak anti dengan Ta’wil, dan tidak membedakan antara Salaf dan Khalaf.
وقد بسطنا القول في هذا بكتاب الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى وصفاته العلى عند قوله تعالى: {الرحمن على العرش استوى}
“dan kami pun telah menguraikan pendapat tentang ini dalam kitab al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala “ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”.
Maksudnya : Imam al-Qurthubi sendiri telah menguraikan tentang ta’wil-ta’wil nash yang dhohir makna nya menunjukkan “Allah berada di atas langit” dalam kitab nya al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala “ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”. Maka sangat jelas akidah Imam al-Qurthubi tentang nash-nahs sifat, bahwa makna dhohir bukanlah maksud dari ayat dan hadits sifatImam al-Qurthubi sangat mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arasy, dan pemahaman Imam al-Qurthubi tentang Hadits Jariyah adalah wajib Ta’wil dengan makna yang shohih, sebagaimana ayat dan hadits mutasyabihat lain nya. Wallahu a’lam
Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat
berkedok murnikan tauhid, manhaj takfiri sangat ditakuti Rosulullah(sahih)
dengan dalih memurnikan tauhid memfitnah umat islam sesat musyrik kafir hingga membasmi semua golongan islam seperti yg dilakukan khawarij wahabi ISIS. إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ، وَكَانَ رِدْئًا لِلْإِسْلَامِ، انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ»، قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ، الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِي؟ قَالَ: «بَلِ الرَّامِي» “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201)
ulama sunni menggugat aqidah wahabi tanduk setan

ulama sunni menggugat aqidah wahabi tanduk setan

Kitab Syarh Shahih Muslim (Imam Nawawi) & at-tidzkar fi afdhali al-adzkar (Imam Qurtubi) : Hadits “jariyah” bukan Dalil Dzat Allah...
4.82/ 5 (91)
Kitab Syarh Shahih Muslim (Imam Nawawi) & at-tidzkar fi afdhali al-adzkar (Imam Qurtubi) : Hadits “jariyah” bukan Dalil Dzat Allah...
4 Dari 5 BINTANG

maulid Nabi VS maulid muhamad bin abdul wahab dan maulid saudi


dengan berbagai alasan yang penuh tipudaya serta pembenaran diri, mereka mati matian mengharamkan maulid Nabi kita dan malah memuliakan dan merayakan kelahiran imam besar mereka, Muhammad bin abdul wahab si  syeih tanduk setan dari Najd.
سئل الشيخ العثيمين رحمة الله تعالى عن الفرق بين ما يسمى بأسبوع الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمة الله والاحتفال بالمولد النبوي حيث ينكرعلى من فعل الثاني دون الأول
:فأجاب
الفرق بينهما حسب علمنا من وجهين
الأول: إن أسبوع محمد بن عبد الوهاب رحمة الله تعالى لم يتخذ تقربا إلى الله عز وجل، وإنما يقصد به إزالة الشبهة في نفوس بعض الناس في هذا الرجل ويبين ما من الله به على المسلمين على يد هذا الرجل.
الثاني: أسبوع الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمة الله لا يتكرر ويعود كما تعود الأعياد بل هو أمر بين للناس وكتب فيه ما كتب وتبين في حق هدا الرجل ما لم يكن معروفا من قبل لكثير من الناس ثم انتهى أمره
من كتاب فتاوى العقيدة للشيخ محمد بن صالح بن عثيمين
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang apa perbedaan antara “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil WahhabRahimahullah” dengan “Perayaan Maulid Nabi”. Mengapa Maulid Nabi diingkari namun acara tersebut tidak diingkari?
Beliau menjawab:
Menurut hemat saya, perbedaannya dilihat dari dua sisi:
Pertama, “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” tidak dianggap sebagai suatu bentuk taqarrub kepada Allah Azza Wa Jalla. Acara ini diadakan dalam rangka meluruskan info-info yang rancu mengenai pribadi beliau. Juga menjelaskan tentang nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin melalui tangan beliau (yaitu jasa-jasa beliau).
Kedua, “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” tidak diadakan secara rutin dan sebagaimana rutinnya hari raya. Isi dari kegiatan ini adalah memberikan menjelaskan dan merilis tulisan-tulisan beliau kepada masyarakat serta menerangkan tentang pribadi beliau. Karena penjelasan tentang hal ini banyak belum diketahui banyak orang. Hanya sebatas itu lah kegiatannya.
Sumber: Majmu’ Fatawa Al Aqidah Li Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
Dinukil dari: http://www.sahab.net/FORUMS/showthread.php?p=423195
LALU DIMANAKAH LETAK PENGKHIANATAN DAN PENISTAAN PADA DIRI ROSULULLAH ?
mari kita simak jawaban imam syeikh wahabi diatas :
1. *** ternyata sejak dulu umat islam sudah banyak tahu mengenai kebusukan muhammad bin abdul wahab, baik itu dari hadis hadis Nabi maupun dari penjelasan para ulama ahlusunnah wal jamaah. sehingga syeih wahabi dan kaumnya perlu mengadakan syiar maulid muhammad bin abdul wahab demi membela matia matian syeih tanduk setan dan memperbaiki citra busuknya.
**** disitu dikatakan "bahwa perayaan maulid bin abdul wahab bukanlah suatu bentuk taqarrub" yang bermaksud bahwa perayaan maulid Nabi kita adalah suatu bentuk taqarrub yang salah atau sesat.
**** disitu dikatakan bahwa perlu mengenang jasa jasa syeih tanduk setan dan mensyukurinya sebagai nikmat atas kelahiran syeih tanduk setan. lalu apakah tidak perlu di kenang jasa jasa Rosulullah sebagai Rohmat seluruh alam ? dan apakah kelahiran Rosulullah tak patut mereka syukuri ?
2.***  disitu mereka berkilah bahwa "waktu" perayaan maulid muhammad bin abdul wahab bukanlah waktu khusus hal ini bermaksud menyinggung kita bahwa hari dan bulan kelahiran Rosulullah adalah bukanlah hal yang penting bagi mereka dan mungkin mereka sudah melupakan bahwa Rosullulah adalah mahluq paling mulia
**** disitu di jelaskan pentingnya mengenal pribadi syeih tanduk setan dan karya karyanya. lalu apakah sejarah dan pribadi uswatun hasanah serta perjuangan Rosulullah tidak perlu dikenal dan disyiarkan pada umat dan generasi islam ?.
dari uraian diatas bisa kita simpulkan bahwa pantaskah mereka disebut mencintai dan memuliakan Rosulullah  ? lalu umat siapakah mereka ?
MAUILD NABI VS HUT NEGARA
 maulid Nabi VS maulid muhamad bin abdul wahab dan maulid saudi
Fatwa Syeh Abd.Aziz Al syeh di sebuah koran Arab Saudi Al Riyadh dan Koran Al okaz
Fatwa pada koran Al Riyadh
اقامة الموالد الشركية لا اساس لها من الدين
Pelaksanaan Maulid maulid termasuk kesyirikan yang tidak ada dasar dari agama
Fatwa di koran Al Okaz
ينبغى ان يكون اليوم الوطنى يوم شكر لله ==و لابد من السمع والطاعة لولاة الامر
Sepatutnya Hari Nasional ( HUT ) merupakan hari syukur kepada ALLOH,dan keharusan Mendengar dan ta’at kepada PENGUASA NEGARA
Peringatan hari hari nasional di saudi 
menari nari didepan patung burung
amir Saudi wahabi dnace with bush
-menari dengan musik ashobiyah (mengagungkan badwi najd saudi)
– menari dgn kafir harbi
– mengacungkan pedang kepada muslim

 maulid Nabi VS maulid muhamad bin abdul wahab dan maulid saudi
***merayakan maulid  negara saudi bukan termasuk bid'ah
Seorang ulama wahhabi salafy doctor Abdullah bin Sulaiman Al-Mani’ pengarang kitab HIWAR MA’AL MAALIKI (Diaolog bersama sayyid Muhammad Al-Maliki)mengeluarkan fatwa bahwa ‘Al-Ihtifal bi yaumil wathoni’ (Merayakan hari nasional) sangat penting bahkan suatu kemuliaan bagi seluruh manusia.
Dalam acara memperingati hari nasional yang beliau selenggarakan bersama para murid-muridnya di kota Madinah, hadir ratusan pemuda pemudi bercampur baur mnjadi satu dengan berbagai macam acara, salah satunya acara joget bersama (untuk videonya lihat link : http://www.al7ewar.net/forum/showthread.php?).

Maulid Nabi syi'ar cinta Rosul dan ungkapan rasa syukur(dalil dalil sahih)
a. Pengertian secara bahasa maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai: Perayaan syiar cinta Rosul dan ungkapan rasa syukur dan gembira atas kelahiran Rasul SAW yang biasanya dilakukan pada bulan rabi’ul awal atau Mulud .

b. Dalil-dalil perayaan Maulid Nabi SAW
dasar utama syiar perayaan maulid nabi adalah syiar cinta Rosul sehingga generasi dan umat islam mengenal dan mencintai dan memulyakan nabinya serta menjalankan risalah yang dibawa beliau, jangan sampai generasi kita lebih mengenal artis korea idolanya ketimbang nabinya.
yang mendasari syiar perayaan maulid sebagai syiar cinta Rosul sebagaimana hadis berikut : 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya."
(sahih bukhori)
 dan hal yang kedua sudah sangat jelas bahwa umat islam sangat memulyakan nabinya yang amat berjasa sangat besar nan mulia yang patut kita kenang dan syukuri sebagai pembawa risalah rohmatan lil alamin dan perayaan syiar cinta rosul ini sebagai ekspresi nyata atas rasa kegembiraan dan bersyukur atas kelhiran Rasululloh SAW yang mana kelahiran Rasululloh SAW adalah sebuah anugerah Allah sebagaimana firman Allah SWT:
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا(يونس:١٥٨)
“Katakanlah (Muhammad), sebab anugerah dan rahmat Alloh (kepada kalian), maka bergembiralah mereka.”(QS.Yunus:58)

Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan bahwa Rasululloh SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:
عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ ولُدِتْ ُوَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ(رواه مسلم، ١٩٧٧)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasululloh pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab:” Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.”(HR.Muslim:1977)
.
Dalil Ketiga,
وَقَالَ اْلاُسْتَاذُ اْلاِمَامُ الْحَافِظُ اْلمُسْنَدُ الذُّكْتُوْرُ اْلحَبِيْبُ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبْدِ اْلقَادِرِ بَافَقِيْهِ بِأَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلِقيَامَةِ مَارَوَاهَ ابْنُ عَسَاكِرَ فِى التَّاريْخِ فِى الْجُزْءِ اْلاَوَّلِ صَحِيْفَةُ سِتَّيْنِ وَقَالَ الذَّهَبِى صَحِيْحٌ اِسْنَادُهُ.
Ustadz Imam al-Hafidz al-Musnid DR. Habib Abdullah Bafaqih mengatakan bahwa hadis “man ‘azhzhama maulidy kuntu syafingan lahu yaum al-qiyamati” seperti diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Kitab Tarikh, juz 1,hlm 60, menurut Imam Dzaraby sahih sanadnya.
Dalil ketiga dalam kitab Madarij As-shu’ud Syarah al-Barzanji, hlm 15:
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
Rosululloh bersabda:Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya dihari Kiamat.

Dalil keeempat dalam Madarif as-Shu’ud, hlm.16
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِ النَّبِي صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ.
Umar r.a mengatakan: siapa menghormati hari lahir Rosululloh sama artinya menghidupkan Islam.
Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawb polemik tentang perayaan Maulid Nabi SAW. Di dalam al-Hawi li al-Fatawi beliau menjelaskan:
“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi Saw,yaitu manusia berkumpul, membaca al- Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setalah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan,tidak lebih. Semua itu termasuk Bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan darejat Nabi SAW, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang mulia.”(Al-Hawi li al-Fatawi,juz1,hal.251-252).

Bahkan imam besar wahabi yaitu syaikh Ibnu Taimiyyah juga merayakan maulid nabi dan mendukung perayaan tersebut, hal ini dibuktikan sebagaimana dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al – Maliki:
“Ibnu Taimiyyah berkata,”Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW, akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS, dan ada kalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.”(Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain al-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, hal 399).

maulid Nabi VS maulid muhamad bin abdul wahab dan maulid saudi

maulid Nabi VS maulid muhamad bin abdul wahab dan maulid saudi

kaum wahabi rayakan maulid muhammad bin abdul wahab (penghianatan pada Rosululllah) dengan berbagai alasan yang penuh tipudaya serta...
4.82/ 5 (91)
kaum wahabi rayakan maulid muhammad bin abdul wahab (penghianatan pada Rosululllah) dengan berbagai alasan yang penuh tipudaya serta...
4 Dari 5 BINTANG

Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)


Ibnu katsir membungkam wahabi : Tafsir ayat “istiwa”
Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian

1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.

2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..

3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA
I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :
1. Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)
Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)
Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah)  :
{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya)  (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan)  dan (memaknai lafadz istiwa dengan)  makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah)  yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”
Wahai mujasimmah wahhaby!!
lihatlah ibnu katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat  dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!
bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!
Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”
Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :
Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!
– ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.
– disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.
“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”
sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

ll.    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:
1- Tafsir al Qurtubi
(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan
2- Tafsir al-Jalalain
(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya
3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:
makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…
4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):
(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf,  sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi
Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf
Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:
1-masak (boleh di makan) contoh:
قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak
2- التمام: sempurna, lengkap
3- الاعتدال : lurus
4- جلس: duduk / bersemayam,
contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil
5- استولى : menguasai,
contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق
Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.
Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?
sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):
ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر
Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:
ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته
Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.
Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.
III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)
Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)1*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.
Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.
Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).
Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.
As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
 Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)

Tafsir ayat “istiwa” versi ibnu katsir (ulama ahli tafsir al qur'an)

Ibnu katsir membungkam wahabi : Tafsir ayat “istiwa” Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat ata...
4.82/ 5 (91)
Ibnu katsir membungkam wahabi : Tafsir ayat “istiwa” Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat ata...
4 Dari 5 BINTANG

Sony Nur PROFIL ADMIN

Sony Nur adalah Ustad Blogger dari
Surabaya, Jawa Timur
Indonesia
Follow Sony Nur Di Dan

Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger
-->