April 2016

ANTI TERORIS-KHOWARIJ FITNAHTAN LIL ALAMIN membongkar kesesatan dan bahaya ajaran wahabi tanduk setan ahlul fitnah dari najd berdasarkan al qur'an dan as sunnah serta pendapat fatwa para ulama sunni

persamaan aqidah wahabi dengan yahudi,syiah dan nasrani



persamaan aqidah wahabi dengan yahudi,syiah dan nasrani
Dalam Akidah ,Wahhabi
mendakwa Allah berbentuk SERUPA dgn manusia baik fisik maupun sipat (Rujuk kitab Wahhabi Aqidah Ahlul Imam oleh At-Tuwaijiriy). nah..ternyata Akidah mereka
ini sama dengan Akidah agama yahudi,agama Kristen dan
golongan Islam dari Syiah yang kononkatanya amat dibenci wahabi.

AKIDAH WAHABI SAMA DENGAN AKIDAH YAHUDI :
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20,
Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
ﺏﺮﻟﺍ ﺖﻳﺃﺭ ﺏﺮﻟﺍ ﺪﻗ ﻡﻼﻛ ًﺍﺫﺇ ﻊﻤﺳﺎﻓ
ﻝﺎﻗ
ﺀﺎﻤﺴﻟﺍ ﺪﻨﺟ ﻞﻛ ﻭ ﻪﻴﺳﺮﻛ ﻰﻠﻋ ﺎًﺴﻻﺟ
ﻩﺭﺎﺴﻳ ﻪﻨﻴﻤﻴﻨﻋ ﻪﻳﺪﻟ ﻦﻋ ﻑﻮﻗﻭ ﻭ
“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke
semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .
- Ibnu Taimiah ikut Membantu
Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ” : Dalam kitab Ibnu
Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4/374 :
ﻰﻠﻋ ﺍًﺪﻤﺤﻣ ﻪﺑﺭ ﻪﺴﻠﺠﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺇ ﻝﻮﺳﺭ
ﺵﺮﻌﻟﺍ ﻪﻌﻣ
“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy
bersamaNya”.
Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan
lafaz kufur Yahudi DEMI MEN-YAHUDIKAN umat islam : Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻲﺳﺮﻜﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻭ ﺍﺫﺇ ﻙﺭﺎﺒﺗ ﺲﻠﺟ
ﺪﻳﺪﺠﻟﺍ ﻞﺣَّﺮﻟﺍ ﻂﻴﻃﺄﻛ ﻂﻴﻃﺃ ﻊِﻤُﺳ ﻪﻟ
artinya: ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.
Lihat Kitab mereka: Fathul Majid,Karangan Abdul Rahman bin Hasan bin Mohd bin Abdul
wahab,m/s:356,Cetakan Darul Salam,Riyadh. (Arab saudi)
yang juga mengatakan” Allah Duduk Dikursi”
Akidah macam diatas diyakini wahabi sehingga Tidak salah jika
ada nada sumbang yang mengatakan Wahabi adalah ISLAM ALA YAHUDI

AKIDAH WAHABI SAMA DENGAN KRISTEN
Perhatikan lagi dalam Injil Ajaran Kristiani :
: ﻲﻓ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻣ ﻦﻋ ﺩﺭﻭ ﻪﻨﻋ ﺮﻛﺫ ﺍﺮﺷﺎﻋ
ﻢﻳﺪﻘﻟﺍ ﺪﻬﻌﻟﺍ
Kristiani berkata pada nomor 7 :6 10 1)
“ ( ﻲﺳﺮﻜﻟﺍ ﺵﺍ ﻰﻠﻋ ”ﻲﻟﺎﻌﻟﺍ ﺲﻟﺎﺟ
ﻪﻠﻟﺍ
artinya: “Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.
Akidah macam diatas diyakini wahabi walapun dengan mode
penyampaian berbeda namun maksudnya sama (menyamakan
Tuhan seperti makhluk,mujasimah) sehingga Tidak salah jika ada nada sumbang yang mengatakan Wahabi adalah ISLAM ALA KRISTEN

AKIDAH WAHABI SAMA DENGAN AKIDAH GOLONGAN SYIAH
Wahhabi mendakwa Allah berbentuk SERUPA dgn manusia (Rujuk kitab Wahhabi Aqidah Ahlul Imam oleh At-Tuwaijiriy). Tahukah anda,TERNYATA Syiah juga berakidah sedemikian. Al Khomaini mendakwa: “Allah menjelma di cermin manusia dan SERUPA dgn
bentuknya” (Rujuk Al-Khomainiy dlm Syarh Du’a).
Kesimpulannya..Syiah dan wahabi sama sama beranggapan Allah
mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah atau Allah Sama seperti bentuk Makhluknya.Walau
cara kedua golongan ini menguraikannya dengan caranya masing masing.intinya tetap sama saja. Lucunya Setiap kali Asawadul Adzom/Aljama`ah atau dikenal Ahlussunnah waljama`ah
(aswaja) menjelaskan hukum sesatnya Akidah macam ini pada golongan Wahabi,Pengikut wahabi lantas teriak teriak jika Orang yang menjelaskannya Adalah Syiah(kambing hitamnya
wahabi).padahal Akidah wahabi dengan syiah sama walau dalam hukum Ushul fiqh dan
beberapa syariat lain keduanya berbeda. Bagiku Golongan ini
dua duanya tidak masuk akal sehat ,Rancu.

Ijma Ulama umumnya mengatakan :
sekalipun seribu kali sholat sehari semalam, zakat dengan jumlah yang banyak,naik haji
berulangkali..jika Akidahnya salah maka hukumnya Adalah majhul.Ibarat kaum kafir
Kristen Sholat, Ini jelas tak ada gunanya. Tentu suatu yang luar
biasa nyelenehnya jika mengaku Islam namun Tuhannya tanpa
sadar menjadi TUHAN BERHALA
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
dalam hadits diatas pada dasarnya menjelaskan pentingnya sanad Ilmu
agar tidak menyimpang dari maksud maksud Rasulullah sesungguhnya.
berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang
mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam,ia membawa pengikat kayu bakar yang
terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu ( karna merasa pintar sendiri memahami quran dan hadits ”(Faidhul Qadir juz 1 hal 433).
terkait hal ini.. coba anda lihat tingkah laku wahabi salafi.semua
hukum hukum agama seakan mereka ini lebih tahu dan lebih
ahlinya dari golongan manapun.Meraka mengaku
bermanhaj salaf,berpendapat berdasarkan sudut pandang
para ulama salaf.Padahal pada kenyataan kebanyakan Para salaf justru tidak sama dengan paham paham wahabi mulai dari perkara Ushul figh sampai masalah akidah yang telah
diuraikan diatas.

4 Imam Madzhab sepakat mengenai Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah
Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:

“واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك”

“Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian”[1].
[1] al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224
persamaan aqidah wahabi dengan yahudi,syiah dan nasrani

persamaan aqidah wahabi dengan yahudi,syiah dan nasrani

Dalam Akidah ,Wahhabi mendakwa Allah berbentuk SERUPA dgn manusia baik fisik maupun sipat (Rujuk kitab Wahhabi Aqidah Ahlul Imam ...
4.82/ 5 (91)
Dalam Akidah ,Wahhabi mendakwa Allah berbentuk SERUPA dgn manusia baik fisik maupun sipat (Rujuk kitab Wahhabi Aqidah Ahlul Imam ...
4 Dari 5 BINTANG

Hadis Sahih Bid'ah Hasanah

hadis sahih bid'ah hasanah
istilah  " Bid'ah Hasanah " atau sebaik baik bid'ah sudah ada dimasa khalifah Umar r.a dan beliaulah
yang mula mula membuat istilah atau dengan kata lain membagi
bid'ah menjadi dua. JADI ISTILAH INI ADALAH SUNNAH KHULAFAUR ROSYIDIN.
dalam hal ini beliau bersandarkan pada sahih muslim berikut : "
dari “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa
yang memulai (hal baru)perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh
pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya
tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa
yang memulai(hal baru) perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan
memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi
sedikitpun dari dosa mereka.” (HR.Muslim [1017]).

oleh karena ini ajaran atau sunnah khulafaur Rosyidin maka umat
islam harus membenarkan dan mengikutinya berdasar hadis sahih berikut :
“Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga ajaran khulafaur rosyidin yang
mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat ajaran tersebut
dengan gigi geraham kalian ” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42. sahih)

terpecahnya islam diakhir zaman menjadi 73 golongan adalah hal
yang pasti bahkan di akhir zaman di era imperialisme barat muncul
ajaran salafi palsu di abad 19 di RIYADH (NAJD) ajaran ini lahir dari
konfirasi yahudi dan inggris untuk menghancurkan islam dari dalam .
tentu saja sekte baru dalam islam dakwanya selalu memfitnah umat
islam bid'ah sesat musyrik kafir pada sesama umat islam dan
Rosulullah menyebut sekte baru ini AJARAN TANDUK SETAN AHLUL
FITNAH DARI NAJD.
dan inilah DAKWAH SALAFY PALSU YANG SANGAT DITAKUTKAN OLEH ROSULULLAH ,terjadinya fitnah sesat musryik kafir hingga
penghalalan darah sesama sebagaimana dalam hadis sahih berikut
Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya yang paling Aku takutkan bagi kalian
adalah seseorang yang membaca al-Quran, sehingga
ketika dia terlihat kebesarannya, pembelaannya
untuk Islam, kemudian ia terlepas dan mencampakkannya di
belakangnya, membawa pedang kepada tetangganya dan
menuduhnya syirik. Saya (Khudzaifah) bertanya: Ya Nabiyyallah, siapaka
diantaranya yang lebih berhak pada kesyirikan, yang dituduh
ataukah yang menuduh? Rasulullah Saw menjawab:
Yang menuduh" (HR Ibnu Hibban 1/282 dari Khudzaifah,  dengan sanad yang hasan)
ibnu taimiyah tahlilan ???
ketua Mufty halalkan kenduri sebagai sunnah sedekah untuk mayit
Dalil Selamatan / Kenduri Arwah / Tahlilan 7 hari & 40 Hari
Sayidina Umar Memerintahkan Baca al-Quran Di Dekat Mayit
Bukti Imam Wahabi Sepakat sampainya Bacaan Al qur'an pada si Mayit
Himpunan Hadis Sahih Pembacaan Al Qur'an di Kuburan
Fakta Shohih KeberkahanYasinan
Fakta Hadis Sahih Bid'ah Hasanah
Bukti Bid'ah hasanah di zaman Khalifah
Asbabun Nuzul dan keberkahan Surat yasin
Bukti Shohih Amalan yang Sampai Pada si Mayit
HADIAH PAHALA BACAAN QUR’AN,Kitab “Ahkamun Nisaa”, oleh cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Hadis Sahih Bid'ah Hasanah

Hadis Sahih Bid'ah Hasanah

istilah  " Bid'ah Hasanah " atau sebaik baik bid'ah sudah ada dimasa khalifah Umar r.a dan beliaulah yang mula mula me...
4.82/ 5 (91)
istilah  " Bid'ah Hasanah " atau sebaik baik bid'ah sudah ada dimasa khalifah Umar r.a dan beliaulah yang mula mula me...
4 Dari 5 BINTANG

Syaikhul islam wahabi ibnu taimiyah akui kebenaran aqidah aswaja

Syaikhul islam wahabi ibnu taimiyah akui kebenaran aqidah aswaja

Syaikhul-Islamnya (Wahhabi) Ibnu Taimiyah telah
menyampaikan dalam kitabnya "Majmu'atul-Fatawi" (4/15) : ﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺃﻣﺎ ﻟﻌﻦ.ﺳُﺠِﻦَ ﺍﻱ) ﻋُﺰِﺭَ،_ ﻓﻤﻦ ﻟﻌﻨ  ﺍﻷﺷﻌﺮﻳﺔ.ﻟﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻤﻦ ﺍﻟﻠﻌﻨﺔ ﻭﻋﺎﺩﺕ ﻭﺿُﺮِﺏَ) ﺍﻟﻠﻌﻨﺔ ﻟﻠﻌﻨﺔ،ﻭﻗﻌﺖ ﻟﻴﺲ ﺍﻫﻼ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ، ﻓﺮﻭﻉ ﺍﻧﺼﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ.ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﺻﻮﻝ ﻭﺍﻻﺷﻌﺮﻳﺔ ﺍﻧﺼﺎﺭ
"Adapun pelaknatan 'Ulama pada para Imam Asy'ariyyah (Penganutnya Imam Abul-Hasan Al-Asy'ary dalam 'Aqidah), maka barang siapa yang melaknat pada mereka (Asy'ariyyah), maka ia di TA'ZIR (dipenjara dan dipukul/Jilid), dan laknatan itu juga kembali pada dirinya. Maka barang siapa
melaknat pada orang yang bukan haknya untuk di laknat maka laknatan itu kembali pada sipelaknat. Para 'Ulama (Fuqoha) itu adalah para penolong Furu'(Cabang/Fiqh)nya agama dan Asy'ariyyah itu adalah para penolong Ushuul(Asal Tauhid)nya agama".
Syaikhul islam wahabi ibnu taimiyah akui kebenaran aqidah aswaja

Syaikhul islam wahabi ibnu taimiyah akui kebenaran aqidah aswaja

Syaikhul-Islamnya (Wahhabi) Ibnu Taimiyah telah menyampaikan dalam kitabnya "Majmu'atul-Fatawi" (4/15) : ﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺃ...
4.82/ 5 (91)
Syaikhul-Islamnya (Wahhabi) Ibnu Taimiyah telah menyampaikan dalam kitabnya "Majmu'atul-Fatawi" (4/15) : ﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺃ...
4 Dari 5 BINTANG

Mengenal Ulama Salaf Yang Asli Sunni

Mengenal Ulama Salaf Yang Asli SunniINILAH ULAMA" SALAF YG ASLI (AHLI SUNNAH WAL JAMAAH)>>>>>>>>>>>>>>> 1) Imam Hanafi lahir: 80 hijriyah 2) Imam Maliki lahir: 93 hijriyah 3) Imam Syafie lahir: 150 hijriyah 4) Imam Hanbali lahir: 164 hijriyah 5) Imam Asy'ari lahir: 240 hijriyah Beliau2 semua ulama Salafus Sholeh atau dikenali dgn nama ulama SALAF... Apa itu Salaf,,!?? Salaf adalah masa terdahulu" yaitu merujuk kpd golongan ulama yg hidup antara kurun zaman kerosulan Kanjeng Nabi Muhammad hingga 300 HIJRIYAH. 1) golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah itu disebut "Sahabat Nabi"krn mereka pernah bertemu langsung dgn Kanjeng Nabi. 2) golongan generasi kedua pula disebut "Tabi'in" yaitu golongan yg pernah bertemu dgn Sahabat nabi, tapi gak pernah bertemu dgn Kanjeng Nabi. 3) golongan generasi ketiga disebut sbg"Tabi' tabi'in" yaitu golongan yg gak pernah bertemu kanjeng nabi dan sahabat tapi bertemu dgn tabi'in. Jadi Imam Abu hanifah (pengasas mazhab hanafi) merupakan murid Sahabat nabi maka beliau seorangTABI'IN.Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Hanbali, Imam Asy'ari pula berguru dgn tabi'in maka mereka adlah golongan TABI' TABI'IN. Jadi kesemua imam-imam yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNya dan pengikut madzhab. Mereka lah yg paling layak digelar sbg"Salafi" krn "Salafi" maksudnya "pengikut golongan SALAF". .SEDANG YG INI NGAKUNYA PALING SUNNAH, GA TAUNYA AHLUL FITNAH DARI NAJD.. Skrg qta lihat rujukan dr Wahhabi 1) Ibnu taimiyyah lahir: 661 Hijriyah (lahir 361 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF )2) Muhammad abd wahhab (pengasas gerakan Wahhabi): 1115 Hijriyah (lahir815 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF) 3) Albani lahir: 1333 Hijriyah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF) 4) Bin baz lahir: 1330 Hijriyah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,sama dgn albani, lahir 1030 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF) 5) Ustaimin lahir: 1928 Masehi (mati tahun 2001, lebih kurang 12 tahun lepasdia mati, lahir entah berapa ribu tahun selepas zaman SALAF. Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali ibnu taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman)... Gak ada seorang pun imam rujukan mereka (wahhabi) yg mereka taksub buta hidup di zaman SALAF....Mereka ini semua TERAMAT LAH JAUH DARI ZAMAN SALAF tapi SANGAT-SANGAT ANEH apabila firqoh firqoh Wahhabi menggelarkan diri/ BERTAQIYAH mengaku sebagai "Salafi" (pengikut golongan Salaf). Sedangkan rujukan mereka, TERNYATA semuanya merupakan manusia2 yg hidup di AKHIR ZAMAN ATAU BUKAN GOLONGAN ULAMA SALAFUSSOLIHIN
Mengenal Ulama Salaf Yang Asli Sunni

Mengenal Ulama Salaf Yang Asli Sunni

INILAH ULAMA" SALAF YG ASLI (AHLI SUNNAH WAL JAMAAH)>>>>>>>>>>>>>>> 1) Imam Hanafi lahir:...
4.82/ 5 (91)
INILAH ULAMA" SALAF YG ASLI (AHLI SUNNAH WAL JAMAAH)>>>>>>>>>>>>>>> 1) Imam Hanafi lahir:...
4 Dari 5 BINTANG

Maulid Nabi Syi'ar Cinta Rosul dan Ungkapan Rasa Syukur(dalil dalil sahih)

Maulid Nabi syi'ar cinta Rosul dan ungkapan rasa syukur(dalil dalil sahih)
a. Pengertian
Secara bahasa maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai: Perayaan syiar cinta Rosul dan ungkapan rasa syukur dan gembira atas kelahiran Rasul SAW yang biasanya dilakukan pada bulan rabi’ul awal atau Mulud .
b. Dalil-dalil perayaan Maulid Nabi SAW
dasar utama syiar perayaan maulid nabi adalah syiar cinta Rosul sehingga generasi dan umat islam mengenal dan mencintai dan memulyakan nabinya serta menjalankan risalah yang dibawa beliau, jangan sampai generasi kita lebih mengenal artis korea idolanya ketimbang nabinya.
yang mendasari syiar perayaan maulid sebagai syiar cinta Rosul sebagaimana hadis berikut : 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya."
(sahih bukhori)
 dan hal yang kedua sudah sangat jelas bahwa umat islam sangat memulyakan nabinya yang amat berjasa sangat besar nan mulia yang patut kita kenang dan syukuri sebagai pembawa risalah rohmatan lil alamin dan perayaan syiar cinta rosul ini sebagai ekspresi nyata atas rasa kegembiraan dan bersyukur atas kelhiran Rasululloh SAW yang mana kelahiran Rasululloh SAW adalah sebuah anugerah Allah sebagaimana firman Allah SWT:
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا(يونس:١٥٨)
“Katakanlah (Muhammad), sebab anugerah dan rahmat Alloh (kepada kalian), maka bergembiralah mereka.”(QS.Yunus:58)
Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan bahwa Rasululloh SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:
عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ ولُدِتْ ُوَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ(رواه مسلم، ١٩٧٧)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasululloh pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab:” Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.”(HR.Muslim:1977)
.
Dalil Ketiga,
وَقَالَ اْلاُسْتَاذُ اْلاِمَامُ الْحَافِظُ اْلمُسْنَدُ الذُّكْتُوْرُ اْلحَبِيْبُ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبْدِ اْلقَادِرِ بَافَقِيْهِ بِأَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلِقيَامَةِ مَارَوَاهَ ابْنُ عَسَاكِرَ فِى التَّاريْخِ فِى الْجُزْءِ اْلاَوَّلِ صَحِيْفَةُ سِتَّيْنِ وَقَالَ الذَّهَبِى صَحِيْحٌ اِسْنَادُهُ.
Ustadz Imam al-Hafidz al-Musnid DR. Habib Abdullah Bafaqih mengatakan bahwa hadis “man ‘azhzhama maulidy kuntu syafingan lahu yaum al-qiyamati” seperti diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Kitab Tarikh, juz 1,hlm 60, menurut Imam Dzaraby sahih sanadnya.
Dalil ketiga dalam kitab Madarij As-shu’ud Syarah al-Barzanji, hlm 15:
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
Rosululloh bersabda:Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya dihari Kiamat.
Dalil keeempat dalam Madarif as-Shu’ud, hlm.16
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِ النَّبِي صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ.
Umar mengatakan: siapa menghormati hari lahir Rosululloh sama artinya menghidupkan Islam.
Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawb polemik tentang perayaan Maulid Nabi SAW. Di dalam al-Hawi li al-Fatawi beliau menjelaskan:
“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi Saw,yaitu manusia berkumpul, membaca al- Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setalah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan,tidak lebih. Semua itu termasuk Bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan darejat Nabi SAW, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang mulia.”(Al-Hawi li al-Fatawi,juz1,hal.251-252).
Bahkan imam besar wahabi yaitu syaikh Ibnu Taimiyyah juga merayakan maulid nabi dan mendukung perayaan tersebut, hal ini dibuktikan sebagaimana dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al – Maliki:
“Ibnu Taimiyyah berkata,”Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW, akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS, dan ada kalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.”(Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain al-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, hal 399).
Maulid Nabi Syi'ar Cinta Rosul dan Ungkapan Rasa Syukur(dalil dalil sahih)

Maulid Nabi Syi'ar Cinta Rosul dan Ungkapan Rasa Syukur(dalil dalil sahih)

a. Pengertian Secara bahasa maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai: Perayaan syiar cinta Rosul dan ungkapan ras...
4.82/ 5 (91)
a. Pengertian Secara bahasa maulud adalah waktu kelahiran. Secara istilah diartikan sebagai: Perayaan syiar cinta Rosul dan ungkapan ras...
4 Dari 5 BINTANG

Ciri Ciri Ahlusunnah Waljamaah yang Asli (sahih)

Ciri Ciri Ahlusunnah Waljamaah yang Asli (sahih)
1.lurus mengikuti al qur'an dan as sunnah.
* ".. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya" (QS. Al-Hasyr: 7).
* Dari Abu Hurairah, r.a. Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah," (sallallahu alaihi wasallam).( hr Imam Malik).
2. mengikuti perbuatan salafus sholihin semisal mengikuti sunnah khulafaur rosyidin dan mengakui mengikuti ulama sebagai pewaris nabi yaitu menimba ilmu dan mempelajari kitab kitabnya semisal kitab kuning) mendengarkan fatwa dan kesepakatan para ulama semisal ijma' dan qiyas.
* "Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga ajaran khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian " (HR.Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42. sahih)Nabi bersabda,
ciri ciri ahlusunnah waljamaah yang asli (dalil dalil sahih)1

Artinya :   
“Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu”.
Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya, “Siapakah yang satu itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri i’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqadku) dan pegangan sahabat-sahabatku”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, lihat Shahih Tirmidzi juz X) 
*
*"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641)
3.merupakan golongan dengan jumlah yang paling besar dari 73 golongan( as-sawad al a'zham) . karena golongan firqoh baru sudah pasti minoritas bahkan baru lahir di era imperilisme barat untuk memecah belah dan menghancurkan islam dari dalam.
* Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "
'Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a'zham (mayoritas kaum muslim) "(HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika'i, Abu Nu'aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)
* Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama'ah(as sawad al a'zham). Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka". (HR. Tirmidzi: 2168).
4.ciri ciri yang ke empat ajaran Rosulullah atau golongan ahlusunnah wal jama'ah sudah pasti Rohmatan lil alamin dan tidak mengajarkan terorisme dan kekejian lainnya. seperti tindakan yg dilakukan salafy palsu ISIS ,FITNAH LIL ALAMIN . penebar fitnah dan terorisme membuat buruk citra islam.
Ciri Ciri Ahlusunnah Waljamaah yang Asli (sahih)

Ciri Ciri Ahlusunnah Waljamaah yang Asli (sahih)

1.lurus mengikuti al qur'an dan as sunnah. * ".. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangn...
4.82/ 5 (91)
1.lurus mengikuti al qur'an dan as sunnah. * ".. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangn...
4 Dari 5 BINTANG

Cara Berbakti Pada Orang yang Telah Tiada

Cara Berbakti Pada Orang yang Telah Tiada
Rosulullah bersabda:"diangkat derajat seseorang setelah matinya,dia pun bertanya,:"wahai Tuhanku mengapa engkau angkat derajatku ? "anakmu memohon ampunan untukmu. (Hr Bukhari)


قاَلَ الطَّبْرَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ بْنِ شِبْلٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، قَالَ : حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَمِّ أَبِي ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْعَلاءِ الرَّازِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ ، وَكُتِبَ بَرًّا " 
Imam ath-Thabrâni rahimahullah berkata, "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin an-Nu’mân bin asy-Syibl, ia berkata, 'Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata, 'Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin an-Nu’mân bin 'Abdurrahmân (paman ayahku), dari Yahya bin al-‘Alâ’ ar-Râzi, dari 'Abdul Karîm Abu Umayyah, dari Mujâhid, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari Jum’at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya).” (Hr Ath Thabrani)


أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ وَأَخْرَجَهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ وَأَخْرَجَهُ الْخَطِيْبُ فَلاَ وَجْهَ لِذِكْرِهِ فِي كُتُبِ الْمَوْضُوْعَاتِ(الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة لمحمد بن علي بن محمد الشوكاني 1 / 302)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni' diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu', sanadnya sesuai kriteria hadis sahih

Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa'i dan Ibnu Majah).sahih

Dalil Membaca al-Quran Di Kuburan
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya" (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Maid 4/449)
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:
فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)
"HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan" (Fath al-Bari III/184)
Membaca al-Quran di kuburan sudah diamalkan sejak masa sahabat:
عَنْ عُمَرَ قَالَ اُحْضُرُوْا أَمْوَاتَكُمْ فَأَلْزِمُوْهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَغْمِضُوْا أَعْيُنَهُمْ إِذَا مَاتُوْا وَاقْرَؤُوْا عِنْدَهُمُ الْقُرْآنَ (أخرجه عبد الرزاق رقم 6043 وابن أبى شيبة رقم10882)
Diriwayatkan dari Umar: Datangilah orang yang akan meninggal, bacakan mereka Lailaha illallah, pejamkan matanya jika mereka meninggal, dan bacakan al-Quran di dekatnya” (Abdurrazzaq No 6043 dan Ibnu Abi Syaibah No 10882)
وَذَكَرَ الْخَلاَّلُ عَنِ الشُّعْبِي قَالَ كَانَتِ اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ (الروح 11)

al-Khallal menyebutkan dari Syu’bi bahwa sahabat Anshar jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka bergantian ke kuburnya membaca al-Quran” (Ibnu Qayyim, al-Ruh: 11)
Imam al-Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi'iyah tentang membaca al-Quran di kuburan:
وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِاَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)
"Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi'i dan disepakati oleh ulama Syafi'iyah" (al-Nawawi, al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab V/311)
Di bagian lagi Imam Nawawi juga berkata:
قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)
"Imam Syafii dan ulama Syafi'iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus" (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu' V/294)
Murid Imam Syafi'i yang juga kodifikator Qaul Qadim, al-Za'farani, berkata:
وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1 / 11)
"Al-Za'farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari riwayat al-Za'farani dari Imam Syafi'i ini:
وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْبٌ عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَةٌ وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْلٌ بِهِ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ أحمد بن علي بن محمد بن علي بن حجر العسقلاني 1 / 85)
"Ini penjelasan yang asing dari al-Syafi'i. Al-Za'farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan (yaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)" (al-Imta', Ibnu Hajar, I/11)
صيد الخاطر للحافظ ابن الجوزي (ص: 96، بترقيم الشاملة آليا)
فَهَذَا مَعْرُوْفٌ، كَانَ مُنْفَرِداً بِرَبِّهِ طَيِّبَ الْعَيْشِ مَعَهُ لَذِيْذَ الْخَلْوَةِ بِهِثُمَّ قَدْ مَاتَ مُنْذُ نَحْوِ أَرْبَعِمِائَةِ سَنَةٍ فَمَا يَخْلُوْ أَنْ يُهْدَي إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مَا تَقْدِيْرُ مَجْمُوْعِهِ أَجْزَاءٌ مِنَ الْقُرْآنِوَأَقَلُّهُ مَنْ يَقِلُّ عَلَى قَبْرِهِ فَيَقْرَأُ: " قُلْ هُوَ اللّهُ أَحَدٌ ، وَيَهْدِيْهَا لَهُ.وَالسَّلاَطِيْنُ تَقِفُ بَيْنَ يَدَيْ قَبْرِهِ ذَلِيْلَةًهَذَا بَعْدَ الْمَوْتِ، ويوم الحشر تنشر الكرامات التي لا توصف، وكذلك قبور العلماء المحققين.
Al-Hafidz Ibnu al-Jauzi al-Hanbali: “Sejak Ma’ruf al-Karakhi wafat tahun 200 H, tiap hari, mendapat kiriman hadiah pahala bacaan berjuz-juz al-Qur’an, minimal orang berdiri di pinggir makamnya dan membacakan surat al-Ikhlash untuknya.”
Membaca al-Quran di kuburan juga diamalkan sejak generasi ulama salaf:
تاريخ بغداد للحافظ الخطيب البغداجي (1/ 122)
أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي قال نبأنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري قال سمعت أبي يقول قَبْرُ مَعْرُوْفٍ اْلكَرَخِي مُجَرَّبٌ لِقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَيُقَالُ إِنَّهُ مَنْ قَرَأَ عِنْدَهُ مِائَةَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَسَأَلَ اللهَ تَعَالَى مَا يُرِيْدُ قَضَى اللهُ لَهُ حَاجَتَهُ
Tradisi membaca surat al-Ikhlash 100 kali, di makam Ma’ruf al-Karakhi (wafat th 200 H)berlangsung sejak generasi salaf untuk terkabulnya hajat (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad)
سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي (18/ 546)
276 - أبو جعفر الهاشمي الامام، شيخ الحنبلية، .... فَمَاتَ هُنَاكَ، وَكَانَتْ جَنَازَتُهُ مَشْهُوْدَةً، وَدُفِنَ إِلَى جَانِبِ قَبْرِ اْلاِمَامِ أَحْمَدَ، وَلَزِمَ النَّاسُ قَبْرَهُ مُدَّةً حَتَّى قِيْلَ:خُتِمَ عَلَى قَبْرِهِ عَشْرَةُ آلاَفٍ خَتْمَةً المنتظم " 8 / 316 - 317، و ذيل طبقات الحنابلة " 1 / 17 و 22 و 23، و البداية والنهاية " 12 / 129)
Ketika al-Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru besar madzhab Hanbali, wafat tahun 470 H, kaum Hanabilah membaca al-Qur’an di makamnya sampai hatam 10.000 kali (al-Hafidz adz-Dzahabi, al-Hafidz Ibnu Katsir Dll)
Begitu pula ketika Ibnu Taimiyah wafat, di kuburnya dibacakan al-Quran
البداية والنهاية (14/ 156) ابن كثير القرشي (700 - 774هـ).
وختمت له ختمات كثيرة بالصالحية وبالبلد، وتردد الناس إلى قبره أياما كثيرة ليلا ونهارا يبيتون عنده ويصبحون، ورئيت له منامات صالحة كثيرة، ورثاه جماعة بقصائد جمة.
Ibnu Taimiyah dikhatamkan bacaan al-Quran berkali-kali baik di makamnya atau di kota. Orang-orang mondar-mandir ke kuburnya berkali-kali selama beberapa hari yang lama, malam atau siang. Mereka menginap di dekat kuburnya sampai Subuh. Mereka menjumpai mimpi-mimpi yang baik tentang Ibnu Taimiyah, dan para jamaah melantunkan kasidah yang beraneka ragam"

SEDEKAH UNTUK SI MAYIT
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756).
SETIAP TAHLIL ADALAH SEDEKAH
"Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)
ADAPUN yg dimaksud tahlilan adalah majelis dzikir untu mendo'akan  dan sedekah atas nama si mayit dan inipun adalah sunnah khulafaur rosyidin yaitu khalifah Umar R.A ketika beliau menjelang ajal berwasiat untuk menyediakan hidangan sebagai sedekah atas dirinya dan agar umat islam berkumpul dirumah beliau untuk mendo'akan beliau (sahih Abu Dawud)
Cara Berbakti Pada Orang yang Telah Tiada

Cara Berbakti Pada Orang yang Telah Tiada

Rosulullah bersabda:"diangkat derajat seseorang setelah matinya,dia pun bertanya,:"wahai Tuhanku mengapa engkau angkat derajatk...
4.82/ 5 (91)
Rosulullah bersabda:"diangkat derajat seseorang setelah matinya,dia pun bertanya,:"wahai Tuhanku mengapa engkau angkat derajatk...
4 Dari 5 BINTANG

Bukti Shohih Amalan yang Sampai Pada si Mayit

Amalan Amalan yang Sampai Pada si Mayit

Berikut rincian beberapa amalan yang ada dalil menunjukkan manfaatnya amalan tersebut:

1- Haji dan Umrah
Yang membicarakan tentang sampainya pahala haji dan umrah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
أَمَرَتِ امْرَأَةُ سِنَانَ بْنِ سَلَمَةَ الْجُهَنِىِّ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ أُمَّهَا مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ عَنْ أُمِّهَا أَنْ تَحُجَّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّهَا دَيْنٌ فَقَضَتْهُ عَنْهَا أَلَمْ يَكُنْ يُجْزِئُ عَنْهَا فَلْتَحُجَّ عَنْ أُمِّهَا ».
Istri Sinan bin Salamah Al Juhaniy meminta bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibunya yang meninggal dunia dan belum sempat menunaikan haji. Ia tanyakan apakah boleh ia menghajikan ibunya. “Iya, boleh. Seandainya ibunya punya utang, lalu ia lunasi utang tersebut, bukankah itu bermanfaat bagi ibunya?! Maka silakan ia hajikan ibunya”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. An Nasai no. 2634, Ahmad 1: 217 dari hadits Abu At Tiyah, Ibnu Khuzaimah 3034, Sunan An Nasai Al Kubro 3613. Sanad hadits inishahih kata Al Hafizh Abu Thohir).
Dalam riwayat lain,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَبِيهَا مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ قَالَ « حُجِّى عَنْ أَبِيكِ ».
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya seorang wanita pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengenai ayahnya yang meninggal dunia dan belum berhaji, maka beliau bersabda, “Hajikanlah ayahmu.” (HR. Bukhari 1513 dan Muslim 1334, lafazhnya adalah dari An Nasai dalam sunannya no. 2635).
Begitu pula boleh mengumrohkan orang yang tidak mampu,
عَنْ أَبِى رَزِينٍ الْعُقَيْلِىِّ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَالظَّعْنَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ».
Dari Abu Rozin Al ‘Uqoili, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku sudah tua renta dan tidak mampu berhaji dan berumrah, serta tidak mampu melakukan perjalanan jauh.” Beliau bersabda, “Hajikan ayahmu dan berumrahlah untuknya pula.” (HR. An Nasai no. 2638, sanadnya shahih kata Al Hafizh Abu Thohir).
Yang membadalkan haji atau umrah diharuskan telah melakukan ibadah tersebut terlebih dahulu. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ
Mulailah dari dirimu sendiri.” (HR. Muslim no. 997).
Juga didukung oleh hadits,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ.فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ شُبْرُمَةُ ». قَالَ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ ». قَالَ لاَ. قَالَ « فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ ».
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang yang berucap ‘labbaik ‘an Syubrumah’ (aku memenuhi panggilan-Mu -Ya Allah- atas nama Syubrumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Siapa Syubrumah?” “Ia adalah kerabat dekatku”, jawab orang tersebut. “Apakah engkau sudah pernah berhaji sekali sebelumnya?”, tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia jawab, “Belum.” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya, “Jadikan hajimu ini untuk dirimu, nanti engkau berhaji lagi untuk Syubrumah.” (HR. Ibnu Majah no. 2903, Abu Daud 1811, Ibnu Khuzaimah 3039, Ibnu Hibban 962. Sanad hadits ini dho’if, Ibnu Abi ‘Urubah adalah perowi ‘an-‘anah. Sedangkan Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

2- Qodho’ puasa wajib

Dalam hadits ‘Aisyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147) Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris (Lihat Tawdhihul Ahkam, 3: 525).

3- Utang (qodho’) nadzar

Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah meminta nasehat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan,
إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ
“Sesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,
اقْضِهِ عَنْهَا
Tunaikanlah nadzar ibumu.” (HR. Bukhari no. 2761 dan Muslim no. 1638)

4- Sedekah atas nama mayit

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756).
setiap tahlil adalah sedekah
 setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laa ilaaha illah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah, dan melarang kemungkaran adalah sedekah. (hr muslim)
Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 24: 314.

5- Amalan sholih dari anak yang sholih

Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

6- Do’a untuk mayit

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan oleh
sekelompok kaum muslimin yang mencapai
100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan dikabulkan.” (sahih HR. Muslim no.947)
Setiap do’a kaum muslimin bagi setiap muslim akan bermanfaat bagi si mayit, baik dari anaknya, orang yang melakukan shalat jenazah untuknya, dan kaum muslimin secara umum. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” (QS. Al Hasyr: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.” (HR. Muslim no. 2733, dari Ummu Ad Darda’). Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.

7- Do’a anak yang sholih, sedekah jariyah dan ilmu yang diambil manfaatnya

Dalam hadits disebutkan,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).
CATATAN : terputus amalnya bukan berarti tak bisa dikirimi do'a dan pahala karena semua dalil sahih diatas telah membuktikan bahwa pahala bisa di kirim atau sampai pada si mayit. adapun hadis mengenai do'a anak yang sholeh sholihah MENERANGKAN TENTANG BENTUK BENTUK AMAL SHOLEH yang terus MENGALIR OTOMATIS walau si mayit sudah tak bisa beramal lagi didunia karena sudah wafat
8. BACAAN AL QUR'AN UNTUK SI MAYIT ,Riwayat Abdurrahman bin Al-‘Ala’ bin Al-Lajlaj, dari bapaknya. Beliau berkata, “Ayahku – Al-Lajlaj Abu Khalid – berkata kepadaku, wahai anakku! Jika aku meninggal, buatkan untukku liang kubur. Ketika kau letakkan diriku di dalam liang kubur, ucapkanlah “Bismillah wa ‘ala millati Rasulillah” kemudian letakkan dengan perlahan, lalu bacalah di atas kepalaku awal dan akhir surat al-Baqarah, karena aku mendengar Rasulullah Saw mengatakan hal itu.”Hadis ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Al-Haitsami berkata, “Para perawinya adalah orang-orang yang tsiqah (terpercaya).Hadis ini juga diriwayatkan secara mauquf(disandarkan pada sahabat) dari Ibnu Umar Ra. seperti yang disebutkan oleh Al-Khilal dalam bagian tentang ‘membaca Al-Quran di pemakaman’, dan oleh Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, serta oleh ulama lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh Imam An-Nawawi Diriwayatkan dari Ibnu Umar Ra, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, jika seorang di antara kalian meninggal, janganlah kalian tahan dia. Segerakanlah untuk dikubur. Bacalah surat Al-Fatihah di atas kepalanya, dan akhir surat al-Baqarah di atas kakinya di dalam kuburnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman dengan sanad yang hasan, Ibnu Hajar.
Bukti Shohih Amalan yang Sampai Pada si Mayit

Bukti Shohih Amalan yang Sampai Pada si Mayit

Berikut rincian beberapa amalan yang ada dalil menunjukkan manfaatnya amalan tersebut: 1- Haji dan Umrah Yang membicarakan tentang ...
4.82/ 5 (91)
Berikut rincian beberapa amalan yang ada dalil menunjukkan manfaatnya amalan tersebut: 1- Haji dan Umrah Yang membicarakan tentang ...
4 Dari 5 BINTANG

Sony Nur PROFIL ADMIN

Sony Nur adalah Ustad Blogger dari
Surabaya, Jawa Timur
Indonesia
Follow Sony Nur Di Dan

Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger
-->